Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Inggris Salah Paham, Bombardir Benteng Kedung Cowek Surabaya saat Pertempuran 10 Nopember

Rahmat Sudrajat • Minggu, 8 Februari 2026 | 09:00 WIB

 

SUNYI: Kondisi Benteng Kedung Cowek Surabaya yang dulu banyak dihujani peluru dari serangan pasukan Inggris.
SUNYI: Kondisi Benteng Kedung Cowek Surabaya yang dulu banyak dihujani peluru dari serangan pasukan Inggris.

RADAR SURABAYA - Setelah perebutan senjata dari tentara Jepang di Morokrembangan Surabaya, sebagian pasukan yang sudah terbiasa melayani meriam ditempatkan di benteng Kedung Cowek.

Sedangkan mereka yang sanggup menggunakan senjata penangkis serangan udara, disebarkan sesuai lokasi meriam.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan, pada 10 November 1945, terjadi pertempuran hebat di Benteng Kedung Cowek.

Saat kapal perang Inggris menembaki Kota Surabaya, pihak mereka sangat terkejut melihat perlawanan yang datang dari arah benteng tersebut.

"Pada waktu kapal perang Inggris menembaki Kota Surabaya, pihak Inggris sangat terkejut melihat perlawanan dari arah benteng-benteng tersebut. Dari kualitas tembakan, Inggris mengira yang melayani meriam-meriam itu adalah anggota tentara Jepang yang tak tunduk pada perintah sekutu, sehingga perlawanan itu disangka sebagai tindakan penjahat-penjahat perang (War Criminals)," ujar Nanang.

Atas dasar kesalahpahaman itu, Inggris kemudian membombardir Benteng Kedung Cowek.

Namun di kemudian hari, dari sejumlah orang Indonesia yang berada di Pasukan Inggris terungkap bahwa pihak Inggris tidak memperhitungkan kemampuan pasukan Indonesia dalam melayani meriam berat di benteng tersebut.

"Kemudian terungkap bahwa Inggris tidak memperhitungkan kalau pihak Indonesia memiliki anggota pasukan berkamampuan melayani meriam-meriam Berat di Benteng-Benteng Kedung Cowek," tambahnya.

Setelah pertempuran tiga minggu di Surabaya sejak 10 November 1945, jumlah anggota pasukan sangat menyusut.

Akibatnya, pada Desember 1945, sisa pasukan Sriwijaya digabungkan ke pasukan Jarot Subiantoro.

Pada Juli 1947, sebagian dari mereka ikut bersama dr. Hutagalung untuk berjuang di Sumatera, namun perjalanan mereka terhenti di Yogyakarta akibat Agresi Militer Belanda yang pertama pada tanggal 21 Juli 1947. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#pertempuran 10 November 1945 #Pasukan Inggris #Pasukan Jepang #Bombardir #benteng kedung cowek #meriam #serangan udara