Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Morotai ke Surabaya: Perjalanan Pasukan Sriwijaya yang Jadi Pejuang Kemerdekaan

Rahmat Sudrajat • Kamis, 5 Februari 2026 | 16:32 WIB

 

SEPI: Kawasan Benteng Kedung Cowek Surabaya yang pernah menjadi markas Pasukan Sriwijaya.
SEPI: Kawasan Benteng Kedung Cowek Surabaya yang pernah menjadi markas Pasukan Sriwijaya.

RADAR SURABAYA - Selama Perang Dunia II, Jepang kekurangan tentara saat mempertahankan Morotai.

Dimana pasukannya mengalami pemboman serta gempuran pesawat terbang dan kapal perang Amerika Serikat.

Ketika Jepang menyerah, pasukan Gyugun termasuk yang berada di Morotai dibubarkan dan dilepaskan begitu saja.

Kemudian mereka berupaya keluar dari Morotai dengan berbagai cara.

"Sebanyak sekitar 400-500 orang di antaranya menaiki perahu dan terdampar di Madura. Dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya tanpa mengetahui lokasi yang akan ditempuh, bahkan tidak menguasai bahasa Jawa dan tidak membawa uang," ujar Nanang Purwono, pegiat sejarah Kota Surabaya.

Secara kebetulan, Kolonel dr. Wiliater Hutagalung berjumpa dengan dua orang pimpinan rombongan tersebut yang berasal dari Tapanuli.

Setelah diberitahu tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mereka sepakat membentuk pasukan sendiri yang kemudian diberi nama Pasukan Sriwijaya dan bergabung dengan tentara Indonesia yang sedang dalam proses pembentukan.

"Pasukan ini kemudian ikut dalam perebutan senjata dari tentara Jepang di Morokrembangan. Anggota yang sudah terbiasa melayani meriam ditempatkan di Benteng Kedung Cowek, sedangkan yang sanggup menggunakan senjata penangkis serangan udara disebarkan sesuai lokasi meriam penangkis serangan udara," tuturnya.

Pada pertempuran 10 November 1945, Benteng Kedung Cowek menjadi salah satu lokasi pertempuran hebat.

Ketika kapal perang Inggris menembaki Kota Surabaya, pihak Inggris sangat terkejut melihat perlawanan yang kuat dari arah benteng tersebut.

"Dari kualitas tembakan, Inggris mengira yang melayani meriam adalah anggota tentara Jepang yang tidak tunduk pada perintah sekutu, sehingga perlawanan itu dianggap sebagai tindakan penjahat perang," jelas Nanang.

Atas dasar alasan tersebut, Inggris kemudian membombardir Benteng Kedung Cowek.

Namun di kemudian hari, dari sejumlah orang Indonesia yang berada di Pasukan Inggris terungkap bahwa pihak Inggris tidak memperhitungkan kalau Indonesia memiliki pasukan yang mampu melayani meriam berat di benteng-benteng tersebut.

"Setelah pertempuran tiga minggu di Surabaya sejak 10 November 1945, jumlah anggota Pasukan Sriwijaya menyusut secara signifikan. Pada Desember 1945, sisa pasukan tersebut digabungkan ke pasukan yang dipimpin oleh Jarot Subiantoro," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#benteng pertahanan #Pasukan Inggris #Surabaya Kota Lama #benteng kedung cowek #pasukan sriwijaya #pertempuran 10 november di surabaya