RADAR SURABAYA - Jika berdiri di atas Benteng Kedung Cowek dan melihat ke arah laut lepas, akan terasa betapa besarnya pengorbanan para pahlawan.
Mereka memperjuangkan kemerdekaan, cita-cita, dan martabat bangsa Indonesia hingga rela kehilangan nyawa.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono menjelaskan, keterkaitan antara sejarah Benteng Kedung Cowek dengan sejarah Kecabangan Artileri Pertahanan Udara TNI AD.
"Benteng Kedung Cowek memiliki hubungan erat dengan perkembangan artileri pertahanan udara Indonesia. Kisah kehebatannya tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pasukan sejenis dari negara lain," kata Nanang.
Menurut Nanang, pasukan Arhanud Australia memiliki cerita bersejarah "ack-ack unit" yang dikenal dengan the "sitting duck" pada saat pertempuran di Normandia.
Namun, kisah kehebatan pasukan penangkis serangan udara yang dimiliki rakyat Indonesia, juga tidak kalah hebatnya.
"Yang berbeda, sasaran yang dihadapi oleh pasukan Sriwijaya saat itu adalah kapal laut dan pesawat udara," jelasnya.
Nanang menambahkan, berdasarkan buku 10 November 1945, Gelora Kepahlawanan Indonesia karangan Brigjen (purn) Barlan Setiadjiaya, kehebatan pasukan penangkis serangan udara juga ditunjukkan di daerah Tandes.
"Dalam pertempuran 10 November 1945 hari pertama, pasukan-pasukan meriam penangkis serangan udara sudah dapat merontokkan dua pesawat Inggris," ungkapnya.
Pertempuran di Kedung Cowek beserta kisah pasukan penangkis serangan udara yang turut mewarnai kedahsyatan perang 10 November 1945, merupakan acuan peristiwa yang melambangkan nilai-nilai perjuangan bangsa.
Namun, terkadang hal-hal yang termuat di dalam keberadaan benteng tersebut menjadi terlupakan begitu saja.
"Mereka mungkin tidak tercatat sebagai bagian yang paling penting dalam kisah pertempuran yang senantiasa dikenang oleh seluruh bangsa Indonesia," ujar Nanang.
Ia menegaskan bahwa di balik bekas-bekas bangunan yang kusam, ada secercah sinar yang bisa membuka mata hati generasi sekarang.
"Hal ini dapat membantu memahami siapa dan bagaimana bangsa ini memperjuangkan martabat dan harga diri sehingga sekarang dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia internasional," katanya.
Nanang mengajak agar keberadaan Benteng Kedung Cowek tetap dilestarikan.
"Sisa-sisa bangunan, rel-rel galangan pengantar munisi meriam, dan keterangan para saksi yang menyatakan adanya pasukan yang mengawaki senjata meriam besar di sana, tidak sepatutnya dinilai sebatas kepingan masa lalu atau hanya sebatas kisah kepahlawanan nasional," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa