RADAR SURABAYA - Kedung Cowek kini lebih dikenal sebagai kawasan wisata alternatif bagi masyarakat Surabaya. Dengan kumpulan bangunan tua menghadap Selat Madura.
Hanya beberapa orang yang mengetahui asal-usul bangunan yang sering disebut benteng oleh warga sekitar, meskipun lokasinya hanya beberapa ratus meter sebelah timur Jembatan Suramadu.
Tidak banyak yang menyadari kebesaran nama benteng ini, yang menyimpan jejak perjuangan bangsa dan makna penting bagi korps Artileri Pertahanan Udara.
Di balik reruntuhannya, Benteng Kedung Cowek menyimpan peristiwa bersejarah yang menjadi bagian dari keluhuran jati diri prajurit Indonesia.
Bahkan, di lokasi ini terkubur jiwa-jiwa pejuang yang telah berperan dalam membesarkan nama negara.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengungkapkan pentingnya benteng tersebut pada masa pertempuran melawan tentara sekutu.
"Pada saat terjadinya pertempuran hebat antara pejuang-pejuang kita dengan tentara sekutu, benteng tersebut menjadi saksi bisu keberanian prajurit-prajurit yang mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan keganasan mesin perang pasukan asing yang lebih modern," ujarnya.
Berdasarkan buku Hutagalung, benteng pantai Kedung Cowek dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda dengan tujuan menghadapi kapal musuh yang mendekati pelabuhan dan pantai Surabaya.
Sejumlah meriam besar dilindungi oleh beton tebal dan kokoh, namun tidak sempat digunakan hingga kedatangan pasukan Jepang.
"Tentara Jepang kemudian menambah persenjataan dan memperkuat perlindungan. Itupun, setelah Jepang menyerah benteng-benteng tersebut masih utuh karena mereka tak sempat memanfaatkannya. Sehingga lokasi pertahanan yang kokoh dan lengkap dengan persenjataannya boleh dikatakan jatuh secara utuh ke tangan pejuang-pejuang Republik Indonesia," papar Nanang.
Menjelang pertempuran 10 November 1945, Benteng Kedung Cowek diduduki oleh Pasukan Sriwijaya yang merupakan mantan Pasukan Gyugun (bentukan Jepang) dengan pengalaman tempur melawan tentara Amerika Serikat.
"Pasukan ini sebagian besar berasal dari Tapanuli, Deli dan Aceh yang di bawa oleh Jepang ke Morotai Halmahera Utara," jelasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa