RADAR SURABAYA – Kota Surabaya pada masa lalu dikelilingi berbagai benteng sebagai bagian dari sistem pertahanan untuk melawan penjajahan. Salah satunya adalah Benteng Kedung Cowek.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, Benteng Kedung Cowek menjadi tempat pertama kali meriam penangkis serangan udara digunakan ketika rakyat Surabaya menghadapi kedatangan tentara sekutu.
Nanang mengatakan, meskipun para pejuang Surabaya tidak menyebut diri mereka sebagai pasukan artileri, kemampuan mereka dalam menggunakan persenjataan artileri menjadi identitas tersendiri.
"Meski pejuang-pejuang Surabaya ini tidak menamakan dirinya sebagai pasukan artileri, namun kemampuan menggunakan persenjataan artileri ini menjadi identitas tersendiri buat mereka," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan konstruksi bangunan Benteng Kedung Cowek memiliki kemiripan dengan Fort Prins Hendriks yang pernah berdiri di tepian Sungai Kalimas, tepat di lahan yang kini menjadi Kampong Benteng.
"Benteng yang pernah berdiri di tepian Kalimas di dalam kota Surabaya ini bernama Fort Prins Hendriks. Benteng ini dibangun pada tahun 1838 dan dibongkar tahun 1895. Dalam perjalanannya benteng Prins Hendrik pernah dipakai sebagai penjara wanita dan terakhir sebagai gudang peluru," jelas Nanang.
Menurutnya fungsi terakhir Fort Prins Hendriks tidak jauh berbeda dengan Benteng Kedung Cowek, namun keberadaannya terpaksa dibongkar akibat perkembangan jaman dan kebutuhan tata kota.
"Dibanding dengan keberadaan benteng Kedung Cowek, benteng ini relatif lebih aman dari pengaruh perkembangan kota. Lagi pula benteng ini masih strategis untuk dijadikan titik pertahanan, meski sekadar sebagai gudang peluru," katanya.
Sampai saat ini, Benteng Kedung Cowek masih jauh dari pengaruh modernisasi kota, kecuali adanya pembangunan Jembatan Suramadu yang berada tepat di sebelah baratnya.
Nanang juga menjelaskan bahwa berdasarkan analisisnya, Benteng Kedung Cowek berada di lokasi yang sangat strategis untuk pertahanan kota Surabaya, mengingat akses utama ke kota pada masa itu melalui Sungai Kalimas.
"Benteng Kedung Cowek ini berada di tempat yang strategis bagi pertahanan kota Surabaya yang akses utamanya ketika itu melewati sungai Kalimas. Sungguh suatu pertahanan yang berlapis bagi kota Surabaya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sistem pertahanan Surabaya kala itu memang dirancang berlapis.
Selain Benteng Kedung Cowek dan Fort Prins Hendriks di daerah jembatan Petekan, terdapat juga Benteng Lodewijk yang ditempatkan di pulau Menari (sekarang Mengare) Kabupaten Gresik.
"Benteng ini bernama benteng Lodewijk yang bertugas mengawasi perairan selat Madura sisi barat," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa