RADAR SURABAYA - Kota Belanda yang berdiri di sebelah barat Sungai Kalimas menjadi bukti sejarah perkembangan Surabaya pada zaman VOC.
Meskipun tidak ditemukan bekas fisik tembok kota, infrastruktur dan tata letak bangunan hingga kini masih memberikan gambaran jelas akan posisi serta tata tembok Kota Surabaya kala itu.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono menjelaskan, luas wilayah kota tersebut dapat dikenali dari posisi tembok kota yang dulunya berdiri mulai dari Jalan Jembatan Merah di sisi timur, Jalan Cendrawasih dan Jalan Merak di sisi selatan, Jalan Krembangan Timur (yang memotong Jalan Rajawali) dan gang di sebelah barat gedung eks-kantor Pajak di Jalan Rajawali di sisi barat. Kemudian ke arah timur pada batas Jalan Garuda dan Taman Jayengrono untuk sisi utara. "Wilayahnya tidak seberapa luas," ujarnya.
Selain jalan-jalan yang menjadi penanda situs tembok, ada konstruksi bangunan menarik di sisi timur SPBU Jalan Rajawali.
"Dinding sebelah barat bangunan tersebut tidak lurus menghadap jalan seperti umumnya eksterior bangunan, melainkan sedikit condong ke timur sehingga terkesan miring," terang Nanang.
Konstruksi semacam ini memiliki alasan mendasar. "Bangunan yang ada saat ini menyesuaikan diri dengan kondisi lansekap masa lalu. Tembok kota I ini pertama kali digagas oleh Cornelis Speelman di era VOC pada abad ke-17," tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa persis di sebelah barat bangunan tersebut dulunya adalah parit dari tembok kota I.
Selain tembok kota I, terdapat juga wilayah kota bertembok yang jauh lebih luas.
Dari sebelah utara, tembok kota ini dulunya berdiri menyusuri sepanjang Jalan Sisingamangaraja hingga Jalan Indrapura sisi utara.
Di bagian barat, letak tembok berada di Jalan Indrapura hingga bertemu di Jalan Kebon Rojo.
Sementara dari Kebon Rojo hingga Jalan Stasiun Kota dan berbatasan dengan Sungai Pegirian adalah batas tembok sebelah selatan.
Selanjutnya, Kali Pegirian menjadi pembatas kota sebelah timur dan bertemu dengan pembatas kota sebelah utara yang berupa Benteng Prins Hendrik. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa