RADAR SURABAYA - Sejarah Kota Surabaya dan sekitarnya menyimpan jejak-jejak masa kolonial yang masih dapat ditemukan hingga kini.
Mulai dari pembangunan tembok kota II yang merupakan perluasan dari wilayah tembok kota I, hingga tinggalan bersejarah di Pulau Mengare.
Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengungkapkan berbagai fakta terkait jejak sejarah tersebut.
Yakni tembok kota II yang merupakan wujud kebijakan pertahanan pasca perang Diponegoro.
Dikatakannya, pembangunan tembok kota II merupakan wujud kebijakan Gubernur Jendral Van Den Bosch (1830-1833).
Tujuannya untuk menerapkan rencana pertahanan umum di Jawa, setelah terjadinya perang Diponegoro selama lima tahun, mulai dari 1825 - 1830.
"Pembangunan, yang mulai dikerjakan pada 1835 itu adalah wujud pandangan Gubernur Jendral H.W. Daendels yang sempat terhenti karena dirinya harus ditarik ke negeri Belanda karena tindak korupsi yang dilakukannya," jelas Nanang.
Diungkapkannya, wilayah kota bertembok ini jauh lebih luas dibandingkan dengan tembok kota I.
Dari sebelah utara, tembok kota ini dulunya berdiri menyusuri sepanjang Jalan Sisingamangaraja hingga Jalan Indrapura sisi utara.
Di bagian barat letak tembok berada pada Jalan Indrapura hingga bertemu di Jalan Kebon Rojo.
Sementara dari Kebon Rojo hingga Jalan Stasiun Kotta dan berbatasan dengan Sungai Pegirian adalah batas tembok sebelah selatan.
Selanjutnya Kali Pegirian inilah yang menjadi pembatas kota sebelah timur dan bertemu dengan pembatas kota sebelah utara yang berupa Benteng Prins Hendrik.
"Bukti yang dapat diamati dari keberadaan tembok kota II hingga kini adalah parit (sungai kecil) yang ada di sepanjang Jalan Indrapura sebelah kanan, mulai dari Masjid Kemayoran hingga ke kawasan Tambak," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa