RADAR SURABAYA - Nama Grogol bagi sebagian orang di Surabaya tidak terlalu asing, karena merupakan nama sebuah kampung yang termasuk Kelurahan Alun Alun Contong, Kecamatan Genteng, Surabaya Utara.
Namun berdasarkan peta hipotesa Von Faber, Grogol pada masa lalu adalah sebuah benteng dan kawasan pertahanan yang terletak di lahan antara dua sungai, yaitu Sungai Kalimas dan Sungai Pegirian.
Pegiat Sejarah Surabaya Nanang Purwono menjelaskan, konon sejak abad 13, kota Surabaya telah diciptakan sebagai kota pertahanan. Yang berarti kota ini tidak pernah luput dari bahaya atau tantangan.
“Konon sejak dulu (abad 13) kota Surabaya ini seperti diciptakan menjadi kota pertahanan, yang berarti pula kota Surabaya ini tidak pernah luput dari bahaya atau tantangan. Wajar bila nama kota ini adalah Surabaya yang berarti berani menghadapi bahaya atau tantangan (Soera-ing-Baya),” ujarnya.
Secara geografis dan lansekap, Surabaya banyak memiliki kedung dan sungai.
Seperti halnya Patjekan, Grogol merupakan kawasan yang berada di antara percabangan sungai dan berfungsi sebagai kawasan pertahanan.
Kala itu, sungai menjadi jalur keluar masuk ke dan dari pusat kerajaan setempat yang termasuk wilayah administratif Majapahit.
Berbeda dengan Patjekan, nama Grogol masih dapat ditemukan di kawasan tersebut, meskipun lebih ke arah utara sekitar Jagalan.
Bukti adanya bentuk perbentengangan juga terlihat dari nama-nama kawasan yang memiliki makna pertahanan.
“Misalnya Ngemplak yang berarti lahan tandus dan terbuka, Jimerto yang berasal dari kata Jibah atau wajib lapor dan warta atau berita memiliki makna wajib lapor di pos penjagaan yang ada. Dengan kata lain, tamu yang hendak masuk ke wilayah Surabaya, mereka wajib lapor,” tuturnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa