Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pemerintah Gemeente Soerabaja Bangun Fasilitas Lengkap, Kota Atas Jadi Kawasan Modern

Rahmat Sudrajat • Rabu, 7 Januari 2026 | 16:30 WIB

 

PEREMPATAN DARMO: Kendaraan militer sekutu saat melintas di persimpangan Jalan Raya Darmo Surabaya yang merupakan kawasan kota atas di era Pemerintah Gumeente Soerabaja. 
PEREMPATAN DARMO: Kendaraan militer sekutu saat melintas di persimpangan Jalan Raya Darmo Surabaya yang merupakan kawasan kota atas di era Pemerintah Gumeente Soerabaja. 

RADAR SURABAYA - Perkembangan Kota Surabaya yang semakin pesat membuat perluasan wilayah menjadi tak terhindarkan di awal abad ke-20.

Wilayah Kota Surabaya yang semula terbatas kemudian diperluas ke arah selatan, meliputi daerah Simpang, Ketabang, Gubeng, Darmo, dan Sawahan.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan, perkembangan tersebut terkait dengan pembentukan pemerintah Gemeente Soerabaja pada 1 April 1906.

Perkembangan kota yang terjadi ini seiring dengan dibentuknya pemerintah Gemeente Soerabaja.

"Dengan memberikan fasilitas kepada para pegawai pemerintah, di kawasan baru itu dibangun fasilitas umum yang terdiri dari perumahan, sekolah, rumah sakit, gereja serta fasilitas umum lainnya seperti fasilitas olah raga," ungkap Nanang, Rabu (7/1).

Kawasan yang diperluas tersebut kemudian dikenal sebagai Kota Atas atau Bovenstad, yang menjadi kawasan lebih moderen dan elit jika dibandingkan dengan Kota Bawah (Benedenstad).

Secara luas, Kota Atas mencakup seluruh wilayah Surabaya yang berada di luar batas tembok.

Sedangkan pada dekade pertama dan kedua abad ke-20, pembangunan fisik banyak terkonsentrasi pada sektor perumahan di kawasan Ketabang, Darmo, Kupang, dan Sawahan.

"Fasilitas umum seperti gereja, sekolah, rumah sakit, dan lapangan olah raga juga dibangun untuk melengkapi sarana perumahan," jelasnya.

Meski berkembang di awal abad ke-20, beberapa titik di wilayah Kota Atas sudah menjadi kawasan penting bagi petinggi Kota Surabaya dan pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 dan 19.

Di antaranya adalah kawasan Simpang dengan Gedung Grahadi yang dibangun oleh Dick Van Hogendorps pada 1775, serta Gedung Setan (Duivels huis) di Kupang yang dibangun pada 1809 dan merupakan rumah tuan tanah milik J.A. Ridder van Middlekoop.

“Di masa lalu, baik Simpang maupun Kupang merupakan daerah luar kota yang indah dan layak untuk dinikmati oleh para petinggi. Keduanya memiliki sungai yang menjadi pemandangan menarik bagi kedua rumah loji tersebut,” ungkap Nanang.

"Misalnya gedung Grahadi, yang dulunya sebelum direnovasi oleh Daendels, bagian depan Grahadi menghadap ke sungai Kalimas. Demikian pula dengan Gedung Setan yang hingga kini masih menghadap ke sungai Banyu Urip," imbuhnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Kota Surabaya #perkembangan #gedung negara grahadi #gedung setan #ketabang #Gemeente #NANANG PURWONO #Simpang