RADAR SURABAYA - Daendels yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda selama tiga tahun sejak 1808-1811, akhirnya ditarik kembali ke negaranya.
Alasan utama penarikan ini adalah sikapnya yang dianggap terlalu keras terhadap raja Jawa dan kurang strategis, sehingga membuat para pemimpin lokal (bupati) menyimpan dendam.
Pegiat sejarah Surabaya Nanang Purwono menjelaskan salah satu faktor yang memperparah ketegangan adalah kebijakan kerja rodi dalam pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan.
“Adanya kerja rodi dalam pembangunan jalan Raya Pos Anyer-Panarukan membuat para pemimpin Jawa merasa tersisih. Jadi ketika penguasa Inggris datang, mereka pun merangkul para pimpinan di Jawa yang kemudian mengkhianati orang Belanda,” ujarnya.
Meskipun memiliki kontroversi, Daendels juga dikenal telah memberikan kontribusi positif dengan membuat birokrasi pemerintahan menjadi lebih efisien.
Selain itu, Deandels juga pernah merencanakan pembangunan kota Surabaya secara lebih sempurna untuk keperluan pertahanan, namun idenya tidak sempat terealisasikan karena harus kembali ke Belanda.
Periode penting berikutnya dalam perkembangan perkotaan Surabaya datang ketika Gubernur Jendral Van Den Bosch menjabat (1830-1833).
Van Den Bosch menerapkan rencana pertahanan umum baru di Jawa yang muncul sebagai antisipasi pasca Perang Jawa atau Perang Diponegoro tahun 1825-1830.
"Tujuan utama adalah untuk menjamin keamanan dan melindungi seluruh aset pemerintah Hindia Belanda, sehingga kota Surabaya dirancang sesuai dengan pandangan yang telah dibuat Daendels sebelumnya," tutur Nanang.
Editor : Nofilawati Anisa