RADAR SURABAYA - Saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels melakukan serangkaian pembangunan dan perombakan infrastruktur pertahanan di Surabaya, antara lain dengan membongkar tembok kota I dan Benteng Belvedere.
Lalu menggantinya dengan Benteng Lodewijk di pulau Menari (Mengareh) Gresik serta Benteng Kalimas di muara sungai Kalimas.
"Selain menambah dan memperkuat pasukan Daendels juga membuat pabrik peralatan dan kebutuhan perang," ujarnya.
Pemerintah Hindia Belanda telah menetapkan keputusan pembangunan bengkel tersebut pada 8 Juli 1808.
Dengan surat keputusan yang berbunyi, "Paduka mempertimbangkan bahwa bagi dinas paduka radja di koloni ini sangat diperlukan agar Surabaya didirikan sebuah bengkel konstruksi umum bagi militer Hindia Belanda."
Lebih lanjut, Nanang menjelaskan bahwa biaya pembangunan bengkel konstruksi artileri ditaksir mencapai 2.426 ringgit Belanda atau F1.819,32, berdasarkan laporan jurusan taksir D. Barbier dan C.F Erentreich kepada S. Gibbs, Kolonel dan Komisaris Ujung Timur Jawa.
Dari jumlah tersebut, tujuh pucuk masih dalam kondisi utuh meskipun ada beberapa bagian yang patah, dengan ukuran hampir sama yakni 2,75-3 meter dan diameter bagian pangkal mencapai setengah meter.
Menurut Nanang, ukuran meriam tersebut tergolong besar dan pernah menjadi perhatian masyarakat serta menimbulkan pertanyaan mengenai asal usul dan sejarah benda artileri masa lalu. (rmt/opi)