RADAR SURABAYA - Herman Willem Daendels, Gubernur, Jenderal Hindia-Belanda ke-36 (1808-1811), memiliki peran sentral dalam membentuk wajah Kota Surabaya.
Daendels juga berperan besar dalam upaya memperluas wilayah Surabaya.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono mengatakan, Daendels, yang tiba di Batavia pada 5 Januari 1808, segera melaksanakan tugasnya melindungi Jawa dari serangan Inggris.
"Di mata Daendels, Surabaya memegang peranan penting sebagai pangkalan militer," ujar Nanang.
Daendels membongkar tembok kota I dan Benteng Belvedere, menggantinya dengan Benteng Lodewijk di Pulau Menari (Mengareh) Gresik dan Benteng Kalimas di muara sungai Kalimas.
Selain itu, Daendels membangun barak militer di Jotangan yang sekarang Polrestabes Surabaya.
"Di utara bekas Benteng Belvedere, Daendels membangun bengkel artileri Artillerie Constructie-Winkel (ACW), yang kini menjadi lokasi PT. Telkom. Jejak militer Daendels juga terlihat dari penemuan 12 meriam kuno dengan panjang bervariasi antara 2,75-3 meter," tutur Nanang.
Selain itu, Daendels membangun pabrik senjata, tangsi militer, kantor administrator militer, dan rumah sakit.
Ia merekrut pribumi untuk bergabung dengan Tentara Belanda, memperluas wilayah kota.
Di kawasan Simpang, Daendels merenovasi rumah loji yang dibangun Gezaghebber Dirk van Hogendorps (1775) sebagai Residen Surabaya (1794-1798), agar representatif untuk menjamu pejabat Eropa.
Gedung yang kini bernama Grahadi masih berfungsi menyambut tamu penting pemerintah seperti yang dibayangkan Daendels.
"Di Simpang, Daendels membangun rumah sakit militer Military Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ), yang dikenal sebagai R.S. Simpang dan kini menjadi Plaza Surabaya. Pembangunan infrastruktur di selatan kota ini membuka perkembangan Surabaya ke arah selatan di abad 19 dan awal abad 20," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa