RADAR SURABAYA - Setelah berhasil mengalahkan Amangkurat I, Trunojoyo bergelar Panembahan Maduretno.
Ia kemudian mendirikan pemerintahan di Madura Barat tahun 1674 dan wilayah pesisir Jawa, termasuk Surabaya.
Di Surabaya, Trunojoyo segera membangun pertahanan, terutama di bekas wilayah administrasi Majapahit.
Yakni di Kampung Kraton dengan mendirikan benteng dan memperkuat pasukan.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan, meskipun wilayah pedalaman tetap setia pada Mataram, VOC terus bersekongkol.
Kekuatan gabungan Mataram di bawah Amangkurat II dan VOC melancarkan taktik dan manuver.
Sempat ada tawaran damai kepada Trunojoyo, tetapi ditolak. VOC akhirnya mengerahkan kekuatan besar untuk menggempur Surabaya.
"Meskipun wilayah pedalaman tetap setia pada Mataram, VOC terus berupaya menekan Trunojoyo," ujar Nanang.
Nanang menyebut perlawanan Trunojoyo ini berawal dari ketidaksukaan terhadap Amangkurat I, yang menyebabkan pemberontakan di wilayah Mataram.
Trunojoyo, seorang bangsawan Madura, memimpin pemberontakan tersebut dan berhasil menguasai wilayah di bawah Mataram, seperti Madura Barat tahun 1674 dan Surabaya di Kampung Kraton, 1675.
"Di kawasan Kraton (Paseban), yang merupakan pusat administrasi lokal, Trunojoyo mendirikan benteng pertahanan. Dalam melawan VOC, Trunojoyo didukung oleh rakyat Surabaya dan Panembahan Giri, yang juga tidak menyukai Amangkurat I," jelasnya.
Sejarah mencatat bahwa Trunojoyo memiliki hubungan erat dengan Surabaya, meskipun ia bukan asli Surabaya, melainkan seorang bangsawan Madura.
Ia secara terang-terangan memberontak terhadap Mataram dan Amangkurat I setelah menggantikan Sultan Agung.
"Amangkurat I sendiri tidak disukai oleh kerabat istana dan ulama karena pemerintahannya yang keras dan persekutuannya dengan VOC.
Bahkan, putra mahkota, Pangeran Adipati Anom, juga tidak menyukai cara ayahnya memerintah, tetapi tidak bisa berbuat banyak," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa