RADAR SURABAYA - Perlawanan Trunojoyo terhadap Kaisar Mataram Amangkurat I dimulai ketika Adipati Anom, yang juga tidak menyukai sikap raja tersebut, secara diam-diam meminta bantuan kepada ulama istana bernama Raden Kejoran alias Panembahan Rama.
Raden Kejoran kemudian memperkenalkan menantunya, yaitu Trunojoyo, kepada Adipati Anom.
Pegiat sejarah Surabaya Nanang Purwono menjelaskan, Trunojoyo, dengan dukungan rakyat Madura, rakyat Makassar di bawah pimpinan Hasanuddin yang telah dikalahkan oleh VOC, dan rakyat Surabaya, terus melakukan perlawanan terhadap Amangkurat I.
"Trunojoyo dengan dibantu oleh rakyat Madura, rakyat Makassar di bawah pimpinan Hasanuddin dan rakyat Surabaya sendiri, akhirnya terus menerus melakukan perlawanan terhadap Amangkurat I. Kemenangan demi kemenangan pun ada di pihak Trunojoyo," tutur Nanang.
Namun, perselisihan kemudian muncul antara Trunojoyo dan Adipati Anom.
Sang Adipati khawatir Trunojoyo tidak akan menyerahkan kepemimpinan kepada dirinya jika berhasil melumpuhkan Mataram.
"Karena pertimbangan itu, Adipati Anom berbalik haluan dan mendukung ayahnya untuk membela Mataram serta melawan Trunojoyo," jelasnya.
Meskipun demikian, kekuatan yang dibangun Trunojoyo jauh lebih tangguh dibandingkan kekuatan Mataram.
Akhirnya, ibukota Mataram di Plered dapat diduduki dan Amangkurat I terdesak keluar dari kraton menuju Wonosoyo.
"Karena kondisi kesehatan yang kurang baik, Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal dunia di Tegal, kemudian dimakamkan di Tegal Arum," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa