Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Surabaya Era Klasik: Trunojoyo Bangun Kekuatan di Surabaya, Amangkurat II Bersekutu dengan VOC

Rahmat Sudrajat • Selasa, 9 Desember 2025 | 23:57 WIB

LUAS: Peta wilayah kekuasaan Trunojoyo di Surabaya di zaman VOC.
LUAS: Peta wilayah kekuasaan Trunojoyo di Surabaya di zaman VOC.
 

RADAR SURABAYA - Pangeran Adipati Anom diangkat sebagai penguasa dengan gelar Amangkurat II.

Karena rasa dendamnya terhadap Trunojoyo, Amangkurat II semakin menjalin hubungan dengan VOC.

Bahkan secara resmi VOC dan Mataram, di tangan Amangkurat II, menandatangani persekutuan untuk melawan Trunojoyo.

Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan, Trunojoyo setelah kemenangannya terhadap Amangkurat I, bergelar Panembahan Maduretno dan mendirikan pemerintahannya sendiri di Madura bagian barat (1674) dan seluruh wilayah pesisir Jawa.

"Salah satu wilayah pesisir itu adalah Surabaya," ujarnya.

Trunojoyo segera membangun wilayah pertahanan di Surabaya, khususnya di wilayah bekas administrasi lokal Majapahit (Kampung Kraton) yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Mataram (Sultan Agung).

Di sinilah Trunojoyo membangun benteng dan kekuatan Surabaya.

"Wilayah pedalaman tetap setia terhadap Mataram meski ada persekongkolan dengan VOC. Dengan kekuatan gabungan antara Mataram (di bawah Amangkurat II) dan VOC, mereka melancarkan taktik dan manuver. Mereka bahkan sempat menawarkan perdamaian kepada Trunojoyo, namun tawaran itu ditolak. VOC pun mengerahkan kekuatan besarnya untuk menggempur Surabaya," jelasnya.

Trunojoyo menunjukkan sikap berontak dan meminta bantuan kepada seorang ulama dari dalam istana bernama Raden Kejoran alias Panembahan Rama.

Raden Kejoran kemudian memperkenalkan menantunya, Trunojoyo, kepada Adipati Anom. Trunojoyo sendiri juga tidak menyukai Amangkurat I karena sikapnya.

Dengan bantuan rakyat Madura, rakyat Makassar di bawah pimpinan Hasanuddin (yang telah dikalahkan oleh VOC), dan rakyat Surabaya, Trunojoyo terus menerus melawan Amangkurat I. Kemenangan demi kemenangan diraih Trunojoyo hingga terjadi perselisihan dengan Adipati Anom.

Adipati Anom khawatir Trunojoyo tidak akan menyerahkan kepemimpinannya jika berhasil melumpuhkan Mataram (Amangkurat I).

Karena itu, Adipati Anom berbalik haluan dan mendukung ayahnya untuk membela Mataram dan melawan Trunojoyo.

"Namun, kekuatan yang dibangun Trunojoyo jauh lebih tangguh dibandingkan kekuatan Mataram. Ibukota Mataram di Plered berhasil diduduki dan Amangkurat I terdesak keluar dari kraton menuju Wonosoyo. Karena kesehatannya yang memburuk, Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal dunia di Tegal, lalu dimakamkan di Tegal Arum," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#klasik #Amangkurat #surabaya #trunojoyo #pesisir #VOC #Radar Surabaya #NANANG PURWONO