Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Konflik Mataram-VOC, Surabaya Jadi Pusat Perebutan Kekuasaan di Abad ke-17

Rahmat Sudrajat • Kamis, 4 Desember 2025 | 23:24 WIB
ILUSTRASI: Peta kekuasaan Trunojoyo saat masa VOC di Surabaya.
ILUSTRASI: Peta kekuasaan Trunojoyo saat masa VOC di Surabaya.

RADAR SURABAYA - Masuknya bangsa Belanda ke Surabaya diawali dengan kedatangan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada tahun 1617.

Pegiat sejarah Surabaya Nanang Purwono mengatakan bahwa kehadiran VOC di Surabaya menandai awal geliat kota ini dalam bidang perdagangan yang lebih modern.

“Ini merupakan langkah awal Surabaya dalam mengembangkan kegiatan ekonomi dan pelabuhan yang strategis,” ujar Nanang.

Von Faber, sejarawan Oud Soerabaia, juga menggambarkan bahwa VOC mendirikan sebuah loji (loge) oleh Jan Pieterszoon Coen saat berkunjung ke Surabaya.

Bahkan menurutnya dibangunnya loji menunjukkan bahwa Surabaya mulai menjadi pusat perdagangan penting di kawasan ini.

Namun, menurut Nanang, masa-masa tersebut juga merupakan masa ketegangan antara kekuasaan lokal dan kekuatan asing.

“Pulau Jawa, termasuk Surabaya dan Jawa Timur, saat itu menjadi pusat perebutan kekuasaan antara kerajaan lokal dan lembaga dagang Belanda, VOC, yang ingin memperoleh keuntungan dari wilayah Hindia Belanda," tuturnya.

Konflik ini memuncak ketika Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1613-1645 memimpin serangan terhadap VOC.

Pada tahun 1628, VOC sempat menutup operasinya di Jawa akibat konflik tersebut.

“Hubungan Belanda dan Mataram sempat renggang, tetapi kemudian kembali harmonis di bawah kepemimpinan penerus Sultan Agung, Amangkurat I, yang berkuasa dari 1646 hingga 1677,” terang Nanang.

Di bawah pemerintahan Amangkurat I, Kraton Mataram dipindahkan ke Pleret, Surakarta, dan beliau bergelar Sunan.

Namun, selama masa pemerintahannya, Amangkurat I tidak disukai banyak pihak karena kebijakan kerasnya dan hubungannya dengan VOC.

“Banyak pemberontakan muncul di wilayah kekuasaan Mataram, termasuk yang dipimpin oleh Trunojoyo, seorang bangsawan Madura,” jelas Nanang.

Pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunojoyo ini sukses menguasai wilayah-wilayah penting seperti Madura Barat dan Surabaya, yang kini dikenal sebagai Kampung Kraton, pada tahun 1674-1675.

Di kawasan Kraton inilah, yang merupakan pusat administrasi lokal kala itu, didirikan sebuah benteng pertahanan oleh Trunojoyo. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#pegiat sejarah #strategis #pelabuhan #surabaya klasik #VOC #Radar Surabaya #NANANG PURWONO #kegiatan ekonomi