RADAR SURABAYA - Kraton Surabaya, yang kini jejaknya masih bisa ditelusuri, memiliki ciri khas tata letak yang serupa dengan kraton-kraton di Jawa lainnya.
Di bagian utara kraton, terdapat alun-alun yang luas dan indah, dilengkapi dengan pepohonan pakis yang halus.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan, keberadaan kampung Kawatan di dekat lapangan Tugu Pahlawan, yang dulunya merupakan Alun-Alun Lor, menjadi petunjuk penting.
"Sebagai perimbangan, kraton Surabaya juga memiliki Alun-Alun Selatan (kidul), yaitu di Alun-Alun Contong yang namanya masih digunakan hingga sekarang," ujarnya.
Lebih lanjut, Nanang mengungkapkan bahwa kampung Kraton yang berdekatan dengan kampung Carikan menjadi bukti sejarah yang menarik.
"Carikan yang berasal dari kata Carik memang sangat logis bila kampung Carikan itu berdekatan dengan kampung Kraton. Carik kala itu tugasnya melakukan pencatatan administrasi Kraton. Sekarang jabatan carik ini sama dengan sekretaris," jelasnya.
Setelah runtuhnya Kesultanan Demak, Surabaya mengalami kekalahan pada tahun 1625 dan dikuasai oleh Mataram.
Penguasaan ini terjadi setelah Pangeran Pekik dijodohkan dengan Ratu Pandan Sari (Mataram).
Namun, hubungan ini membawa dampak positif bagi kehidupan rakyat dan pemerintahan Kadipaten Surabaya.
Pada tahun 1646, Surabaya bahkan sempat menata dirinya secara independen.
Sayangnya, kemandirian ini tidak berlangsung lama karena penguasa Mataram beralih dari Sultan Agung ke Amangkurat I dan penerusnya, Amangkurat II.
Kesultanan Mataram sendiri merupakan kerajaan Islam yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan.
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dengan menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura.
Jejak sejarah Mataram masih dapat dilihat hingga kini, seperti di wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa