Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tahun 1525 Surabaya Digambarkan Sebagai Kota Besar Seperti Halnya Majapahit

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 15 November 2025 | 14:28 WIB

 

GAMBAR: Ilustrasi perkampungan di zaman Kerajaan Majapahit.
GAMBAR: Ilustrasi perkampungan di zaman Kerajaan Majapahit.

RADAR SURABAYA - Selain dikenal sebagai bekas wilayah Kerajaan Majapahit, Surabaya juga pernah menjadi bagian penting dari Kesultanan Demak, kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1487.

Kesultanan ini, yang awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit, memainkan peran kunci dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan wilayah Indonesia lainnya.

Menurut Nanang Purwono, seorang sejarawan lokal, Kesultanan Demak mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan.

Pada tahun 1549, kekuasaan beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir.

Salah satu peninggalan bersejarah dari Kesultanan Demak adalah Masjid Agung Demak, yang menurut legenda didirikan oleh para Walisongo.

"Setelah sempat mengalami kemunduran, di bawah kuasa Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah untuk melakukan penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Demak mulai menguasai daerah di Jawa seperti Surabaya pada tahun 1527," ungkap Nanang.

Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546 dalam pertempuran saat berupaya menaklukkan Pasuruan.

Upaya penyebaran Islam ke wilayah timur Jawa Timur, yang dikuasai oleh Kerajaan Hindu Blambangan, pun mengalami kegagalan.

Pada era Kesultanan Demak (1478-1568), atau setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit (sekitar tahun 1527), aktivitas kehidupan masyarakat Surabaya menjadi semakin dinamis.

Masyarakat Surabaya mulai merasa mampu untuk mengelola administrasi wilayahnya sendiri.

"Bahkan, sesungguhnya Surabaya sendiri telah digambarkan sebagai kota besar seperti halnya Majapahit pada tahun 1525 atau tahun 1447," tutur Nanang.

Lebih lanjut Nanang menjelaskan, pada masa itu, administrasi Surabaya berbentuk kepangeranan atau kadipaten yang dipimpin oleh Pangeran Pekik.

"Dalam catatan barat, penguasa Surabaya disebut sebagai The Prins of Surabaya atau Kadipaten Surabaya dengan pangeran atau adipati. Pada masa itu (Kerajaan Mataram), Kadipaten Surabaya memiliki hubungan erat dengan Mataram, terkait dengan tali perkawinan Pangeran Pekik dengan Ratu Pandan Sari dari Mataram," jelasnya.

Namun, pernikahan keduanya sebagaimana diceritakan dalam Babad Tanah Djawi yang menjelaskan pembicaraan Raja Mataram dengan Panembahan Poerbaja.

"Panembahan Poerbaja akhirnya berangkat ke Surabaya untuk menemui Pangeran Pekik dan menyampaikan pesan Raja Mataram," pungkasnya. (rmt/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Surabaya Kota Lama #Kesultanan Islam #Kerajaan Demak #Era klasik #kota besar #Kesultanan Pajang #Radar Surabaya #kerajaan majapahit