Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Surabaya Era Klasik hingga Kolonialisme di Antara Tembok Kota, Dimulai sejak Abad 9 dari Perkampungan Permanen di Tepi Kalimas

Rahmat Sudrajat • Kamis, 13 November 2025 | 22:22 WIB
KLASIK:  Pertunjukan seni di dalam sebuah kompleks permukiman kuno di Jawa di era Majapahit, termasuk di Surabaya.
KLASIK: Pertunjukan seni di dalam sebuah kompleks permukiman kuno di Jawa di era Majapahit, termasuk di Surabaya.

RADAR SURABAYA - Surabaya adalah salah satu kota tertua di Pulau Jawa dan kawasan kepulauan Melayu.

Kota ini menyimpan jejak sejarah panjang yang bermula dari perkampungan permanen di tepi sungai Kalimas pada pertengahan abad ke-9.

Pegiat Sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan, Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 dan awal abad ke-15.

Terutama saat diperintah oleh raja Hayam Wuruk dengan mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada berhasil mempersatukan wilayah nusantara melalui Sumpah Palapa.

"Wilayah yang pernah disatukan oleh Gajah Mada melalui Sumpah Palapa adalah Gurun (Nusa Penida), Seran (Pulau Kowiai di Selatan Irian), Tanjung Pura Kalimantan Selatan, Haru (Aru, pantai timur Sumatera), Pahang, Dompu (Sumbawa), Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura atau Johor)," ujar Nanang.

Majapahit yang berdiri dari tahun 1293 hingga 1527 Masehi, berpusat di Pulau Jawa bagian timur dan menguasai sebagian besar wilayah Jawa, Madura, Bali, dan wilayah lain di nusantara.

"Surabaya sendiri sebagai salah satu pelabuhan terpenting bagi Majapahit, maju dan berkembang seiring dengan kemajuan dan kejayaan Majapahit," tuturnya.

Pada tahun 1416, Surabaya telah didiami oleh orang-orang kaya, termasuk warga Cina yang berjumlah sekitar seribu keluarga.

"Jika satu keluarga terdapat rata-rata 7 jiwa, maka kala itu populasi di Surabaya sekitar 7000 jiwa," jelas Nanang.

Kawasan permukiman tersebut berada di sekitar aliran sungai, mulai dari Patjekan (Jagir) hingga ke Panggung, Kampung Baru, dan ke timur di Jalan Nyamplungan.

"Di era Hindia Belanda kemudian terbentuk kampung Pecinan dan kampung Arab," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#klasik #Kota Surabaya #sungai kalimas #Jejak Sejarah #zaman majapahit #Radar Surabaya #sejarah