RADAR SURABAYA – Bagi generasi sekarang, lagu Tiger Shark mungkin terdengar seperti musik mars biasa. Tapi bagi warga Surabaya di masa Revolusi 1945, nada-nada itu justru menjadi tanda bahaya sekaligus pemantik semangat juang. Begitu lagu itu mengudara, masyarakat segera tahu: Bung Tomo akan berbicara.
Menurut Musafir Isfanhari, dosen musik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang juga dikenal sebagai arranger dan dirigen sejumlah paduan suara di Surabaya, Tiger Shark diputar sebagai pembuka setiap kali Bung Tomo hendak menyampaikan pidatonya lewat radio.
“Begitu mendengar lagu itu, masyarakat langsung berbondong-bondong menuju Radio Oemoem terdekat. Mereka tahu, Bung Tomo akan memberi seruan,” ujar Musafir.
Radio Oemoem sendiri adalah radio siaran yang awalnya dipasang oleh pihak penjajah di berbagai titik kota untuk kepentingan propaganda. Namun, para pejuang Arek Suroboyo berhasil memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi penting kepada masyarakat.
“Radio yang tadinya milik penjajah justru dipakai balik untuk melawan,” kata Musafir.
Menurut dia, pemilihan Tiger Shark bukan tanpa alasan. Secara musikal, lagu itu memiliki irama mars yang tegas, ritmis, dan mampu membangkitkan adrenalin.
“Efek psikologisnya besar. Nada-nadanya cepat, perkasa, dan memberi rasa siap tempur. Itu yang membuatnya sangat cocok jadi tanda pembuka pidato Bung Tomo,” jelas Musafir.
Sayangnya, studio radio tempat Bung Tomo dulu berpidato kini sudah lama dirobohkan, meski bangunan itu sempat berstatus cagar budaya dan situs sejarah. Akibatnya, masyarakat—terutama generasi muda—tak lagi bisa melakukan napak tilas ke salah satu lokasi penting yang berkaitan erat dengan pertempuran 10 November 1945.
Kini, lagu Tiger Shark menjadi bagian dari memori kolektif sejarah perjuangan Surabaya. Suara musiknya mengingatkan kembali pada masa ketika setiap denting nada bisa menggerakkan massa, menyatukan semangat, dan menyalakan api keberanian di tengah suasana genting revolusi.
“Kalau lagu kebangsaan menumbuhkan rasa cinta tanah air, Tiger Shark membangkitkan jiwa perlawanan khas Arek Suroboyo,” pungkas Musafir. (*)
Editor : Lambertus Hurek