RADAR SURABAYA - Sebelum Surabaya dikenal sebagai kota industri dan perdagangan modern seperti sekarang, kota ini sudah lebih dulu menjadi simpul penting dalam jaringan ekspedisi dan pengiriman barang di era kolonial.
Aktivitas itu bahkan telah berlangsung sejak abad ke-19, seiring berkembangnya pelabuhan dan jalur transportasi darat yang menghubungkan berbagai wilayah di Nusantara.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan, jasa ekspedisi dan pengiriman modern sejatinya bukan hal baru di Indonesia.
“Pada masa kolonial, sistem pengiriman barang dan surat sudah berjalan dengan baik. Selain menggunakan kapal laut, pengiriman juga dilakukan melalui jalur darat lewat Jalan Raya Pos atau jalur Daendels,” ujarnya.
Menurutnya, Surabaya memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan dan logistik karena letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan.
“Gudang-gudang ekspedisi dulu banyak berdiri di sekitar Kalimas, Jalan Karet, Jalan Gula, hingga kawasan Pesapen. Lokasi-lokasi ini sangat dekat dengan pelabuhan, sehingga memudahkan bongkar muat barang dari kapal ke darat,” tutur pria yang akan disapa Wawan ini.
Pada abad ke-19, wajah Surabaya terbagi antara kawasan pemukiman Eropa dan kampung-kampung penduduk lokal.
Orang-orang Eropa banyak bermukim di sisi barat Jembatan Merah, tidak jauh dari pasar Pabean dan kantor Syahbandar.
Kawasan ini menjadi pusat aktivitas ekonomi dan administrasi pelabuhan.
“Tempat itu sangat strategis untuk menjalankan usaha perdagangan dan ekspedisi karena menjadi titik temu antara laut dan darat,” lanjutnya.
Tak hanya perusahaan swasta yang bergerak dalam layanan ekspedisi pada masa itu.
Pemerintah kolonial juga memiliki sistem logistik resmi melalui kantor pos.
Jalur pos kolonial melewati beberapa titik di Surabaya agar distribusi barang, surat, dan kebutuhan logistik bagi masyarakat serta kepentingan pemerintah dapat berjalan lancar.
“Kalau kita lihat secara historis, jaringan pengiriman ini merupakan fondasi dari sistem logistik modern yang kita kenal sekarang. Bedanya, dulu pergerakannya bergantung pada kapal layar, gerobak, dan kuda pos. Namun prinsip efisiensi dan keterhubungan antarwilayah sudah diterapkan sejak lama,” terang Wawan
Kini, jejak sejarah itu masih bisa ditelusuri melalui bangunan-bangunan tua di sekitar Kalimas hingga Pesapen.
Beberapa di antaranya masih difungsikan sebagai gudang dan kantor pengiriman.
"Sementara itu, geliat perdagangan di kawasan tersebut tetap hidup, menjadi saksi perjalanan panjang Surabaya sebagai kota pelabuhan dan pusat ekspedisi Nusantara," pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa