RADAR SURABAYA - Pada era kolonial gerbong trem uap yang ada di Surabaya termasuk yang melintas di rute Ujung-Wonokromo-Karangpilang dibagi menjadi tiga gerbong atau tiga kelas.
Kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Pembagian gerbong atau kelas ini tidak lepas dari pengaruh Belanda.
Pemerhati sejarah Surabaya Navy Ekka Pattiruhu menjelaskan, pada era kolonial dahulu ada tiga pembagian kelas pada transportasi trem yang beroperasi di Surabaya.
"Ada tigas kelas. Kelas satu kulit putih (Eropa) kelas dua Timur Asing (Arab dan Cina) dan kelas tiganya baru lokal atau pribumi," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Navy mengatakan untuk trem uap yang melintas di rute Wonokromo-Karangpilang menggunakan gerbong kayu.
Selain itu juga ada gerbong pikulan untuk pedagang. "Iya (gerbong) hampir ngga ada bedanya. Cuma beda bentuk kursi aja beda fasilitasnya.
Terus juga Belanda kan rasis, jadi ada pemisahan golongan sampai di fasilitas KA atau trem," bebernya.
Ia mengungkapkan, pada tahun 1898 pasca jalur diperpanjang ke Krian tiket trem berbeda harganya.
Untuk dari Ujung ke Karangpilang kelas 1 tiketnya 20 sen. Kemudian kelas 2 10 sen dan kelas 3 pribumi 5 sen.
"Tapi ada juga versi tiket berlangganan bulanan atau abodemen yang lebih hemat," tukasnya. (rus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa