RADAR SURABAYA - Pada masa kolonial Belanda, denyut kehidupan pasar di Surabaya tidak hanya berdetak dari pagi hingga sore hari.
Suasana sejumlah pasar saat malam hari, juga tak kalah meriahnya.
Meski pemerintah kolonial telah menetapkan aturan jam operasional pasar mulai pukul 05.00 pagi hingga matahari terbenam, dalam praktiknya aturan tersebut tidak sepenuhnya ditaati.
Banyak pasar di Surabaya, di era kolonial, justru lebih ramai saat malam hari.
Di berbagai sudut kota Surabaya tempo dulu, sejumlah pasar justru dikenal lebih hidup pada sore hingga malam hari.
Bahkan, beberapa pasar tersebut tetap buka hingga dini hari.
Keberadaan pasar malam ini tidak hanya menunjukkan dinamika ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari kebudayaan kota yang terus bergulir, bahkan di bawah bayang-bayang kolonialisme.
Menurut pustakawan Chrisyandi Tri Kartika dalam buku Nieu Soerabaia, tercatat ada sejumlah pasar malam yang menjadi pusat keramaian warga.
Di antaranya adalah Pasar Genteng, Peneleh, Kalianjar, Wonokromo, hingga Patjarkeling.
“Pasar-pasar ini tidak hanya menjual bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya warga dari berbagai lapisan masyarakat,” ungkap Chrisyandi.
Menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi, lanjut dia, pasar-pasar malam ini semakin semarak.
Warga datang untuk membeli beragam makanan khas serta pernak-pernik untuk menyambut hari raya.
“Dari jajanan tradisional hingga lampu-lampu hias, semua tersedia di pasar yang menjadi pusat kehidupan malam masyarakat Surabaya pada masa itu,” jelasnya.
Chrisyandi menambahkan, fenomena pasar malam ini memperlihatkan bahwa kehidupan ekonomi dan sosial di Surabaya tidak mati selepas matahari terbenam.
Meski berada di bawah aturan dan kontrol pemerintah kolonial, masyarakat tetap menemukan ruang untuk menjalankan roda ekonomi dan melestarikan tradisi dalam suasana yang lebih bebas di malam hari. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa