RADAR SURABAYA - Pasar Ampel yang terletak di kawasan religius Kampung Arab Ampel, Surabaya, bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan khas Timur Tengah, tetapi juga sebagai simbol akulturasi budaya yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Menurut Chrisyandi Tri Kartika, pustakawan dan sejarawan dari Universitas Ciputra Surabaya, keberadaan Pasar Ampel tak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan para pengikut Sunan Ampel.
Sunan Ampel adalah salah satu Wali Songo yang berdakwah di wilayah tersebut pada abad ke-15.
Seiring dengan semakin banyaknya pendatang dari wilayah Timur Tengah, terutama dari Hadramaut, kawasan sekitar Masjid Ampel lambat laun berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai.
“Pasar tradisional seperti Ampel sulit dipastikan kapan tepatnya mulai ada, karena pedagang zaman dahulu cenderung berpindah-pindah. Mereka berdagang dengan barang bawaan yang bisa dipikul atau disunggi, dan biasanya berjualan di area padat penduduk,” jelas Chrisyandi.
Ia menambahkan bahwa pasar seperti ini muncul secara organik.
Setelah suatu lokasi dianggap strategis dan ramai pembeli, para pedagang pun memilih untuk menetap, meskipun tidak semua bersifat permanen.
Dalam prosesnya, Pasar Ampel tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga tempat bertemunya berbagai latar belakang etnis.
“Selain pendatang Timur Tengah, warga lokal dan bahkan etnis Tionghoa juga turut mewarnai dinamika pasar ini,” ujar Chrisyandi.
Chrisyandi juga menambahkan bahwa seiring waktu dominasi budaya dan pedagang dari Timur Tengah semakin kuat, menjadikan Pasar Ampel sebagai salah satu kawasan dengan nuansa Arab paling kental di Surabaya.
Kini, Pasar Ampel tidak hanya dikenal karena rempah-rempah, kurma, minyak wangi, dan kain-kain khas Timur Tengah, tetapi juga sebagai destinasi wisata religi yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa