RADAR SURABAYA - Di balik hiruk-pikuk pentas seni dan riuh sorak tawa anak-anak, Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik.
Di era Kolonial Belanda, THR adalapan lapangan yang menjadi lokasi pasar malam.
Siapa sangka, kawasan yang dikenal sebagai pusat hiburan rakyat ini dulunya hanyalah sebuah lapangan terbuka di kawasan Calnalaan, kini Jalan Kusuma Bangsa, yang rutin digunakan untuk olahraga dan kegiatan masyarakat.
Menurut sejarawan Surabaya, Nur Setiawan, sebelum dikenal sebagai THR, lapangan itu menjadi lokasi pasar malam tahunan bernama Jaarmarkt, tradisi khas masa penjajahan Belanda.
“Sebelum THR berdiri, kawasan itu merupakan sebuah lapangan yang terletak di daerah Calnalaan dan kerap digunakan untuk berolahraga hingga menggelar pasar malam Jaarmarkt,” jelasnya.
Jaarmarkt yang berarti "pasar tahunan". Merupakan ajang pameran industri, perdagangan, serta hiburan bagi warga dan menjadi awal dari kegiatan pameran tahunan di Surabaya. Pertama kali digelar pada tanggal 21 Mei 1905 oleh J.E Jasper.
Dikutip dari Surabaya Historical, konsep Pasar Tahunan ini pada setiap kota di Hindia Belanda memiliki nama yang berbeda-beda.
Penyelenggaraannya berdekatan dengan ulang tahun Ratu Wilhelmina, yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1880.
Untuk memeriahkannya diselenggarakan acara tahunan secara beruntun di setiap kota di Hindia Belanda.
Di Bandung pada akhir Juni sampai awal Juli diselenggarakan Jaarbeur, Kota Semarang pasar tahunannya disebut dengan Pasar Malem.
Sedangkan di Batavia dinamakan Pasar Gambir. Di Surabaya, Jaarmarkt diadakan di bulan September sampai awal Oktober yang bertepatan dengan musim kemarau sehingga hujan tidak mengganggu keberlangsungan acara tersebut.
Jaarmarkt Surabaya bisa dikatakan sebagai pelopor penyelenggaraan acar pameran yang sejenis di kota-kota lain.
Kesuksesan penyelenggaraan oleh Jasper pada tahun 1905 diikuti di berbagai kota.
Pada tahun 1906 di Sumatera oleh Fort de Kock diadakan Peken Malem, bulan Agustus-September 1906 diselenggarakan Pasar Gambir oleh Mr. Pleyte di Batavia.
Even-even yang sejenis juga diadakan di kota Bandung, Bondowoso dan Semarang ditahun 1909 hingga tahun 1914.
Penyelenggaraan pasar tahunan oleh Pemerintah Hindia Belanda terinspirasi pameran yang diadakan negara Jerman yang memamerkan hasil-hasil industri.
Tujuan Pemerintah Hindia Belanda adalah untuk mempromosikan industri-industri besar secara berkala di beberapa tempat dan industri pribumi juga dapat berpartisipasi dalam acara pameran.
Jaarmarkt ingin mendapatkan pengunjung yang banyak dan ingin membangun hubungan pemasaran antara produsen dan konsumen, sehingga pemerintah memperbolehkan industri pribumi berpastisipasi.
Asosiasi resmi Jaarmarkt diberi nama S.J.V (Soerabaiasche Jaarmarkt Vereniging) didirikan pada tahun 1908 dan mendapat status hukum dari pemerintah tahun 1910 yang selanjutnya dilaksanakan setiap tahun di Kotamadya (Gemente) Surabaya.
Hiburan yang ditampilkan dalam Jaarmarkt terbagi menjadi dua, yaitu hiburan kesenian dari masyarakat pribumi yang terdiri dari pertunjukan wayang, ludruk, reog, dogel, gandroeng, barong, keroncong, paseran (permainan judi tradisional) dan karapan sapi.
Sedangkan hiburan yang ditampilkan orang Eropa terdiri dari pesta kembang api, dansa, musik, sulap dan lain-lain.
Jaarmarkt juga menampilkan pertunjukkan yang disukai anak-anak seperti Komedi Putar dan Tong Setan.
Aneka macam permainan untuk anak-anak seperti draimolen, redmolen dan lain-lain.
Untuk dewasa tersedia restoran yang menyajikan musik dan dansa yang letaknya di gedung utama tepatnya di tengah-tengah lapangan yang dibangun secara permanen. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa