RADAR SURABAYA - Meski bernama Pasar Kembang, pasar ini tak hanya menjual bunga.
Sejak lama, Pasar Kembang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan yang ramai dan ikonik di Surabaya.
Setelah terbakar beberapa tahun lalu, kini pasar ini mulai dibenahi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nanang Purwono, mengungkapkan bahwa Pasar Kembang sudah tercatat dalam peta kota sejak tahun 1940.
Peta tersebut diterbitkan oleh Het Woningbureau Versluis NV Soerabaja.
Menurutnya, pasar lama ini dahulu terletak di tikungan pertemuan antara Jalan Pasar Kembang dan Jalan Diponegoro, tepat di bawah jembatan layang Kupang (Pasar Kembang).
“Bangunan lamanya terbuat dari kayu jati dengan atap genting. Lokasinya sangat strategis karena berada di pusat simpang lima yang dilalui jalur trem uap Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS),” jelas Nanang.
Sebelum Indonesia merdeka, Pasar Kembang lama menjadi salah satu pusat perputaran ekonomi di Surabaya.
Letaknya yang berdekatan dengan kawasan elit Darmo dan didukung infrastruktur transportasi membuat pasar ini hidup dan ramai.
Pasar Kembang lama berada di kawasan yang menghubungkan lima jalan besar yaitu Jalan Diponegoro, Jalan Pasar Kembang, Jalan Pandegiling, Jalan Girilaya, dan Jalan Banyuurip.
Hingga kini, lokasi itu masih dikenal sebagai salah satu titik lalu lintas tersibuk di kota Surabaya.
“Pasar Kembang lama ini adalah memorabilia kemajuan kota Surabaya sebelum era kemerdekaan. Letaknya juga berseberangan dengan bekas rumah Gubernur Jenderal yang dikenal dengan nama Rumah Setan,” kata Nanang.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas ekonomi perlahan berpindah ke Pasar Kembang baru yang terletak di sisi utara atau kiri Jalan Pasar Kembang, sebelum pertigaan Jalan Pandegiling.
Namun, daya tarik historis dan nilai strategis dari pasar lama belum sepenuhnya tergantikan.
“Ketenaran nama Pasar Kembang kini diwakili oleh pasar baru, namun sejarah dan nilai budayanya tetap melekat kuat di masyarakat,” pungkas Nanang. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa