Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pasar-Pasar Kuno Surabaya, Jejak Perdagangan dari Masa Majapahit: Pasar Peneleh Dulunya Dermaga Kecil Tempat Transit Kapal Jenazah

Suryanto • Rabu, 27 Agustus 2025 | 03:03 WIB
TEPI SUNGAI: Salah satu saksi bisu perkembangan kawasan Kampung Peneleh adalah Pasar Peneleh.
TEPI SUNGAI: Salah satu saksi bisu perkembangan kawasan Kampung Peneleh adalah Pasar Peneleh.

RADAR SURABAYA - Kampung Peneleh di Surabaya bukan sekadar kawasan tua.

Melainkan ruang hidup yang menyimpan beragam cerita sejarah kota.

Salah satu saksi bisu perkembangan kawasan Kampung Peneleh adalah Pasar Peneleh.

Sebuah pasar tradisional yang pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial warga.

Bahkan jauh sebelum Surabaya menjadi kota metropolitan seperti sekarang.

Menurut Chrisyandi Tri Kartika, pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, pada era kolonial, tepatnya di kawasan Jalan Peneleh, terdapat sebuah dermaga kecil yang berfungsi sebagai tempat transit perahu pembawa jenazah orang Eropa.

Jenazah-jenazah tersebut akan dibawa menuju Makam Peneleh, salah satu kompleks pemakaman tertua di Surabaya.

“Lokasi dermaga ini berada di pertigaan Jalan Peneleh dan Jalan Makam Peneleh, persis di tepi Sungai Kalimas yang dahulu menjadi jalur transportasi air utama kota,” ungkap Chrisyandi.

Ia melanjutkan, namun seiring berjalannya waktu dan berubahnya kebutuhan masyarakat, dermaga tersebut tidak lagi difungsikan.

Lokasinya kemudian bertransformasi menjadi pasar, yang kelak dikenal sebagai Pasar Peneleh.

Puncak kejayaan pasar terjadi sekitar tahun 1935. Dimana aktivitas perdagangan kian meningkat.

Orang-orang Bali, terutama dari Singaraja, banyak yang menetap di sekitar Peneleh dan ikut membuka lapak dagangan. Khususnya pedagang buah-buahan.

“Pasar Peneleh pada zamannya adalah titik temu antarkelompok etnis. Tidak hanya sebagai tempat transaksi ekonomi, tapi juga ruang interaksi sosial yang memperlihatkan keberagaman penduduk kota Surabaya,” lanjut Chrisyandi.

Memasuki dekade 1960-an, Pasar Peneleh mulai dikenal sebagai pasar buah.

Buah-buahan, terutama jeruk, mendominasi lapak-lapak di pasar ini.

Meskipun semakin ramai, kondisi ini membawa konsekuensi baru: kemacetan dan pendangkalan Sungai Kalimas akibat sampah pasar, terutama sisa peti kemasan buah yang dibuang ke sungai.

Dengan kondisi yang semakin semrawut dan tidak tertata, serta pergeseran aktivitas ekonomi warga, akhirnya Pasar Peneleh ditutup sekitar tahun 2007.

Kini, lokasi bekas pasar tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif warga Surabaya.

”Khususnya mereka yang pernah merasakan denyut kehidupan pasar di masa silam,” jelasnya.

Meski tak lagi berdiri, Pasar Peneleh tetap hidup dalam cerita.

Ia bukan hanya pasar, tapi simbol perubahan ruang, pertemuan budaya, dan denyut ekonomi masyarakat tempo dulu.

Kisah pasar ini memperkaya sejarah Kampung Peneleh, yang hingga kini masih menyimpan jejak-jejak arsitektur dan kehidupan kolonial yang layak untuk dilestarikan dan dikenang.

“Pasar seperti ini menjadi bagian dari identitas kota. Kita tidak bisa bicara sejarah kota Surabaya tanpa menyebut peran ruang-ruang komunal seperti Pasar Peneleh,” tutup Chrisyandi. (sur/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#dermaga #makam peneleh #ekonomi #sungai kalimas #peneleh #jenazah #kampung #pasar #perdagangan #eropa #pasar peneleh #Aktivitas