RADAR SURABAYA - Pasar Wonokromo menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota Surabaya.
Terletak di bagian selatan kota Surabaya, pasar ini dulunya berada tak jauh dari percabangan sungai Kalimas.
Sunga Kalimas dikenal sebagai salah satu sungai utama yang pada masa lalu menjadi nadi transportasi dan distribusi barang dari pedalaman Jawa ke kawasan pesisir.
Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, Pasar Wonokromo sudah ada sejak era kolonial, sekitar tahun 1920.
Kala itu Pasar Wonokromo adalah pasar krempyeng, yakni pasar tradisional yang buka setiap hari sejak pagi.
“Dalam beberapa foto lama zaman Belanda, kita bisa melihat aktivitas perdagangan yang begitu hidup, tidak hanya bahan pokok seperti sayur-mayur, tapi juga hewan ternak,” jelas Nur Setiawan.
Sebagai pasar krempyeng, Pasar Wonokromo memperjualbelikan barang yang langsung habis, seperti sayur-mayur, makanan dan jajanan, hingga buah-buahan.
Di kisaran tahun 1905 hingga 1950, perkembangan kota Surabaya mengarah dari utara ke selatan.
Modernisasi kota pun tumbuh cukup cepat.
Sejumlah fasiltas umum seperti listrik, air bersih, telepon, sanitasi kota serta banyak jaringan jalan raya dan perumahan modern dibangun pada masa tersebut.
Penataan tata ruang kota dirancang berdasarkan sistem zoning, seperti daerah perumahan, daerah perdagangan, industri dan sebagainya.
Mengakibatkan wilayah selatan Surabaya mulai ramai dengan banyak penduduk akibat dari moderinasi kota Surabaya.
Pasar Wonokromo adalah pasar tradisional yang berada dipintu gerbang sebelah selatan menuju pusat kota Surabaya, dan merupakan daerah pusat perdagangan yang dikenal dengan kawasan segitiga Wonokromo.
Memasuki era 1950-an, wajah pasar ini mulai berubah.
Pemerintah saat itu melakukan penataan ulang dengan membangun bangunan baru bergaya arsitektur jengki, gaya khas Indonesia pasca kemerdekaan.
Pasar pun memiliki dua lantai, dengan penataan stan yang lebih rapi dan fasilitas yang menunjang kenyamanan pengunjung.
Lokasinya yang berada dekat dengan stasiun dan terminal membuat Pasar Wonokromo ramai dikunjungi warga dari berbagai kalangan.
Namun perjalanan panjang pasar ini tidak selalu mulus. Beberapa kali musibah kebakaran melanda, membuat wujud asli bangunan jengki tak bisa lagi dijumpai.
Kini, Pasar Wonokromo tampil dalam balutan yang lebih modern.
Lantai bawah masih difungsikan sebagai pasar tradisional, mempertahankan denyut ekonomi rakyat, sementara bagian atasnya berubah menjadi pasar modern bergaya plaza.
“Transformasi Pasar Wonokromo menunjukkan bahwa denyut kehidupan lama masih bisa berdampingan dengan wajah baru kota. Sebuah simbol bahwa sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga dijaga dalam dinamika zaman,” jelas Nur Setiawan. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa