RADAR SURABAYA - Di tengah hiruk pikuk kota Surabaya yang modern, Pasar Kapasan tetap berdiri kokoh hingga saat ini.
Pasar Kapasan adalah salah satu pasar tradisional tertua dan paling bersejarah di kota Pahlawan.
Beroperasi sejak tahun 1918, Pasar Kapasan menjadi pusat perdagangan yang masih aktif hingga kini.
Menjadikannya saksi bisu perjalanan ekonomi dan sosial kawasan pusat kota Surabaya.
Pasar Kapasan memiliki dua tipe tempat berdagang, yakni kios dan los.
Kios merupakan bangunan permanen beratap dan tertutup, sementara los adalah tempat berjualan semi permanen yang dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan pedagang.
Kedua tipe ini memberi warna tersendiri pada aktivitas jual beli yang berlangsung setiap hari di sana.
Ciri khas yang paling dikenal dari Pasar Kapasan adalah perannya sebagai pusat grosir konveksi. Terutama penjualan baju, celana, dan gamis dalam jumlah besar.
Selain itu, jenis dagangan yang dijual pun beragam. Pedagang kios umumnya menjual barang-barang peracangan, seperti meracang (sayur mayur siap masak), bumbu dapur, serta ada pula yang menjajakan buah-buahan, depot makanan, flora dan fauna, jasa giling, perlengkapan konveksi, hingga pecah belah.
Sementara itu, pedagang los lebih banyak menjajakan meracang, daging, buah, dan bumbu dapur.
Menariknya, kawasan Jalan Kapasan tempat pasar ini berada, dahulu merupakan permukiman saudagar Tionghoa.
Banyak rumah-rumah tua masih mempertahankan arsitektur khas Tionghoa kuno, dan keberadaan klenteng di wilayah ini menjadi penanda kuat akan jejak budaya tersebut.
"Bahkan kawasan Kapasan ini dulu disebut kampung kungfu. Saudagar tidak hanya melestarikan budaya Cina namun juga bela diri," ujar Nur Setiawan, pegiat sejarah Surabaya.
Ia menuturkan, pada masa penjajahan Belanda, para saudagar mempelajari bela diri untuk melindungi diri dari penindasan, termasuk penarikan pajak yang semena-mena.
Kini, meski zaman telah berubah, semangat perdagangan di Jalan Kapasan tetap bergelora.
“Pasar Kapasan masih menjadi tujuan utama masyarakat, tidak hanya dari Surabaya, tetapi juga dari luar kota, untuk mencari kebutuhan tekstil dan berbagai barang lainnya,” ungkap pria yang akrab disapa Wawan itu.
"Sekarang masih tetap menjadi kawasan perdagangan seperti dulu," tambah Wawan.
Pasar Kapasan bukan hanya sekadar tempat berbelanja, melainkan juga penjaga warisan budaya dan sejarah.
Tempat di mana jejak masa lalu masih hidup berdampingan dengan geliat ekonomi masa kini. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa