RADAR SURABAYA - Nama Jalan Pasar Besar Wetan di Surabaya ternyata menyimpan kisah menarik yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Bukan sekadar penamaan lokasi, jalan ini diyakini memiliki keterkaitan kuat dengan keberadaan Pasar Besar.
Pasar Besar atau juga disebut Peken Ageng dahulu berada di kawasan keraton Surabaya.
Menurut Nur Setiawan, pegiat sejarah Surabaya, berdasarkan cerita tutur yang berkembang di kalangan masyarakat, khususnya dari para sesepuh kota Surabaya, Peken Ageng atau Pasar Besar dulunya terletak di dalam kompleks kekeratonan Surabaya.
Pasar ini memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada tepat di sisi barat Kali Mas.
Yang saat itu masih menjadi jalur utama perdagangan di wilayah terkait.
“Pasar Besar atau Peken Ageng bukan hanya tempat transaksi ekonomi, tetapi juga pusat keramaian yang menjadi denyut nadi kota pada masa itu,” ujar Wawan, sapaan karib Nur Setiawan.
Namun, lanjut dia, keberadaan Pasar Besar tersebut mulai menghilang seiring dengan runtuhnya tatanan kekeratonan Surabaya antara abad ke-18 hingga ke-19.
Area yang dahulu menjadi pusat perdagangan dan budaya itu kemudian bertransformasi menjadi kawasan administratif.
Setelah Belanda membangun kantor-kantor pemerintahan kolonial di sana.
Pasar Besar pun dipindahkan dari tepi Kali Mas ke arah Pabean dan Pasar Turi, lokasi yang kini lebih dikenal sebagai pusat aktivitas perdagangan modern.
Meski bangunan pasarnya telah lama tiada, jejaknya masih tertinggal dalam nama Jalan Pasar Besar Wetan.
“Sebuah penanda bahwa di tempat itu pernah berdiri pasar agung milik keraton,” ungkap Wawan.
“Cerita ini memang bukan catatan sejarah resmi, melainkan bagian dari folklor atau cerita tutur warga. Tapi dari cerita-cerita ini, kita bisa belajar banyak tentang perubahan wajah kota dan jejak budaya yang tertinggal,” imbuh Wawan.
Hingga kini, Jalan Pasar Besar Wetan tetap menjadi salah satu kawasan sibuk di Surabaya.
Meski Pasar Besar yang dahulu menjadi asal-usul namanya telah hilang, sejarahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat dan cerita turun-temurun yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa