Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pasar-Pasar Kuno Surabaya, Jejak Perdagangan dari Masa Majapahit: Dulunya Hanya Pasar Dadakan, Sekarang Pasar Atom Jadi Tempat Kulakan

Suryanto • Rabu, 6 Agustus 2025 | 00:30 WIB
SEJARAH: Pasar Atum dulu hanyalah pasar dadakan yang aktivitas perdagangannya didominasi masyarakat Tionghoa.
SEJARAH: Pasar Atum dulu hanyalah pasar dadakan yang aktivitas perdagangannya didominasi masyarakat Tionghoa.

RADAR SURABAYA - Saat ini, Pasar Atom dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan modern di Surabaya, lengkap dengan gedung bertingkat dan pusat perbelanjaan (mal).

Namun, siapa sangka, kawasan ini dulunya hanyalah pasar kaget yang muncul spontan di masa kolonial Belanda.

Pemerhati sejarah Surabaya, Nur Setiawan, mengungkapkan bahwa Pasar Atom telah ada sejak era kolonial sebagai pasar dadakan.

Aktivitas perdagangannya didominasi oleh masyarakat Tionghoa yang menjajakan barang kebutuhan sehari-hari.

“Memang Pasar Atom dulu adalah pasar kaget yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda,” ujar wawan, sapaan karib Nur Setiawan.

Lokasi Pasar Atom dianggap sangat strategis, berada di antara Stasiun Semut dan perairan sungai Pegirian, serta tidak jauh dari aliran sungai Kalimas.

Keberadaan sungai-sungai ini memudahkan akses transportasi barang pada masanya.

Seiring waktu, perkembangan pasar semakin pesat. Banyak pembeli datang, tidak hanya dari Jawa, tapi juga dari luar Pulau Jawa.

Sebagian besar dari mereka adalah pedagang yang membeli barang dalam jumlah besar (kulakan) untuk dijual kembali.

Melihat potensi tersebut, pada akhir tahun 1970, dibangunlah gedung bertingkat untuk menampung aktivitas jual beli yang semakin ramai.

“Para pembeli yang biasanya membeli barang-barang rumah tangga bisa lebih tenang saat musim hujan, karena sudah ada gedung,” jelas Wawan.

Dominasi pedagang Tionghoa masih terasa kuat hingga kini.

Banyak di antara mereka yang tak hanya berdagang di pasar, tapi juga memiliki toko di rumah masing-masing.

Strategi ini dikenal sebagai cara ‘menjemput bola’, demi mempercepat perputaran barang dagangan.

“Jadi orang Tionghoa menjemput bola karena sudah punya toko di rumahnya. Mereka buka stan di Pasar Atom untuk mempermudah penjualan,” tambah Wawan.

Karena itu, Pasar Atom identik dengan komunitas Tionghoa di Surabaya. Baik pedagang maupun pembelinya banyak berasal dari etnis tersebut.

Bahkan, ada ungkapan bahwa Pasar Atom, warga Tionghoa, dan kota Surabaya adalah tiga elemen yang tak bisa dipisahkan.

Kini, Pasar Atom tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga saksi bisu sejarah dinamika perdagangan kota Surabaya dari masa kolonial hingga era modern. (sur/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#mal #surabaya #majapahit kerajaan islam #kuno #perdagangan #masa #Pasar Atom #jejak #Pusat Perbelanjaan Bisa Beroperasi #kulakan sabu di hotel jalan pemuda