RADAR SURABAYA - Pasar Genteng yang letaknya strategis di jantung kota, tepatnya di Jalan Genteng Kali, Surabaya, membuatnya mudah dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Lokasi Pasar Genteng hanya beberapa langkah saja dari kawasan Jalan Tunjungan yang sekarang ini dikenal ‘kembali’ sebagai salah satu denyut pariwisata Surabaya.
Jalan Tunjungan yang dikembangkan menjadi Romansa Tunjungan adalah destinasi wisata yang kehadirannya telah menghidupkan kembali kawasan terkait yang cukup lama mati suri.
Kini, Pasar Genteng tidak hanya dikenal karena sayur dan buahnya, melainkan juga karena pusat elektroniknya yang berada di lantai atas.
Beragam barang tersedia, dari bahan pokok hingga produk teknologi dan peralatan rumah tangga.
Pemerhati sejarah Surabaya Kuncarsono Prasetyo mengatakan, sejak dibangun ulang pada tahun 1980-an, Pasar Genteng berkembang menjadi bangunan tiga lantai yang menjual beragam kebutuhan masyarakat.
"Pasar Genteng dulu adalah bagian penting dari pola perdagangan tradisional Surabaya. Lantai 1 untuk kebutuhan pokok, lantai 2 dan 3 didedikasikan untuk barang elektronik," kata Kuncar.
Pemerhati sejarah dari Begandring Soerabaia ini menjelaskan, di lantai 1, pengunjung bisa menemukan sayur, buah, ikan segar, hingga jajanan tradisional yang khas untuk oleh-oleh.
Sedangkan lantai 2 dan 3 menjadi surga bagi pencari alat elektronik, mulai dari radio, remot televisi, hingga sistem audio modern.
"Meski sudah dibangun ulang, konsep pasar ini tetap alami dan mengikuti perkembangan zaman. Pola dagangannya pun berubah. Kalau dulu pasar buka pagi saja, sekarang lebih fleksibel, mengikuti jam kerja toko elektronik," sambungnya.
Keunikan lain dari pasar ini menurut Kuncar adalah kemampuannya bertahan tanpa mengubah pola dasarnya.
Kuncar menjelaskan bahwa pasar ini menjadi bukti nyata bagaimana elemen-elemen lama dapat bersinergi dengan kebutuhan modern.
"Sejak awal berdirinya, pasar ini tidak pernah kehilangan fungsinya. Perdagangan awal yang kita identifikasi tidak tergusur, hanya berkembang sesuai kebutuhan zaman," jelas mantan jurnalis ini.
Pengunjung Pasar Genteng tidak hanya datang untuk belanja kebutuhan pokok tetapi juga untuk mencari komponen elektronik langka yang sulit ditemukan di tempat lain.
Hingga saat ini, Pasar Genteng tetap menjadi simbol kuat dari keberlanjutan tradisi pasar Surabaya.
Bagi masyarakat setempat, pasar ini bukan hanya tempat belanja, tetapi juga bagian dari identitas kota.
"Salah satu alasan pasar ini masih bertahan adalah lokasinya yang strategis, di tengah kota, dekat sungai, dan menghubungkan area Genteng ke pusat perdagangan lainnya," jelas Kuncar.
Pasar Genteng juga menjadi bagian dari upaya pelestarian kawasan tua Surabaya. Meski telah direnovasi, bangunan ini tetap menjadi saksi sejarah yang menghubungkan Surabaya masa lalu dengan masa kini.
"Banyak pasar tradisional yang hilang, tapi Pasar Genteng bertahan. Ini karena masyarakatnya masih menjaga tradisi perdagangan yang ada di sini," tutupnya.
Jika dahulu pasar ini hanya hidup di pagi hari, kini suasana ramai tak pernah benar-benar reda hingga sore bahkan malam.
Pasar Genteng terus beradaptasi dengan zaman, menjadi pusat ekonomi rakyat yang tetap relevan di tengah persaingan ritel modern dan e-commerce. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa