Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sungai Kalimas Berperan Penting sebagai Jalur Transportasi Perdagangan dan Pelayaran di Surabaya

Suryanto • Rabu, 23 Juli 2025 | 15:25 WIB
SIBUK: Aktivitas bongkat muat di Kalimas Barat yang menunjukkan sistem perdagangan di Kota Surabaya sudah ramai sejak zaman dulu.
SIBUK: Aktivitas bongkat muat di Kalimas Barat yang menunjukkan sistem perdagangan di Kota Surabaya sudah ramai sejak zaman dulu.

RADAR SURABAYA - Surabaya terus menggeliat menjadi kota metropolitan. Di balik hiruk-pikuk modernitasnya, Surabaya menyimpan sejarah panjang sebagai kawasan perdagangan yang sudah hidup sejak era Majapahit.

Sejarah perdagangan di Surabaya dimulai sejak era kerajaan.

Di mana Surabaya merupakan pelabuhan penting dan gerbang masuk Kerajaan Majapahit.

Perkembangannya berlanjut hingga masa kolonial. Saat itu Surabaya menjadi pusat perdagangan penting, terutama dengan hadirnya komunitas Arab dan Tionghoa.

Pegiat sejarah kota Surabaya Nur Setiawan mengatakan, sungai Kalimas berperan penting sebagai jalur transportasi perdagangan dan pelayaran di Surabaya.

Surabaya sudah menjadi pelabuhan penting pada masa Kerajaan Majapahit di abad ke-14.

“Belanda menjadikan Surabaya sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan utama,” ungkap pria yang akrab disapa Wawan.

Komunitas Arab dan Tionghoa memainkan peran penting dalam perdagangan, dengan pusat perdagangan di kawasan Ampel dan Kembang Jepun (Pecinan).

Sungai Kalimas menjadi jalur transportasi vital yang menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota, memfasilitasi perdagangan dan distribusi barang.

“Surabaya sejak zaman Majapahit sudah menjadi kawasan penting. Dulu masih berstatus sebagai desa, namun fungsinya sebagai pelabuhan kecil di tepi Kalimas menjadikan wilayah ini ramai oleh aktivitas perdagangan,” ungkap Wawan.

Ia menjelaskan, pada masa itu, transportasi air menjadi moda utama karena dianggap efisien.

Sungai Kalimas menjadi urat nadi yang menghubungkan berbagai wilayah dan menjadikan perdagangan sebagai aktivitas utama masyarakat.

“Di sepanjang tepi Kalimas inilah pasar-pasar tradisional mulai tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Wawan menyebut pasar-pasar seperti Pabean, Genteng, Keputran, hingga Wonokromo merupakan jejak nyata dari masa lampau yang masih bisa dijumpai hingga hari ini.

Meski telah mengalami renovasi, pasar-pasar tersebut tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khasnya.

“Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, tapi juga ruang interaksi sosial dan budaya yang mencerminkan keberagaman masyarakat Surabaya sejak dulu,” tambah Wawan.

Menariknya, tak semua pasar kuno berada di tepi sungai. Beberapa pasar juga tumbuh di kawasan padat penduduk seperti Pasar Asem di Simo, Pasar Soponyono di Rungkut, dan pasar-pasar lainnya yang masih aktif beroperasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Seiring waktu, denyut kehidupan pasar-pasar tradisional Surabaya tetap bertahan.

Di tengah serbuan pasar modern dan digitalisasi, keberadaan pasar-pasar ini menjadi bukti bahwa warisan budaya dan sejarah tetap hidup di tengah masyarakat. (sur/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#era Majapahit #sungai kalimas #tionghoa #Hindia #pelayaran #arab #komunitas #pasar #kuno #perdagangan #Belanda #kerajaan #pasar pabean #kolonial