RADAR SURABAYA - Penggantian nama komplek olahraga di kawasan Tambaksari, Surabaya, yang sebelumnya hanya ada lapangan sepak bola, kini berkembang dengan hadirnya lapangan Karanggayam dan juga gedung atletik yang berada di sisi utara stadion utama.
Menurut pegiat sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan, saat itu Acub Zainal sebagai ketua pelaksana penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-VII tahun 1969, bersama pejabat setempat berinisiatif mengubah nama stadion.
"Acub Zainal selaku ketua penyelenggara PON ke-VII beserta Wali Kota Surabaya Soekotjo, Gubernur Jatim Mochammad Noer, bersama Pangdam dan Kapolda Jatim kala itu berinisiatif agar nama Stadion Tambaksari diubah," ujar Nur Setiawan.
Dijelaskannya, perubahan nama ini bertujuan agar nama komplek olahraga ini lebih menasional. Karena nantinya akan dikenal dan dikenang oleh masyarakat Indonesia secara umum.
"Perubahan nama ini bukan tanpa sebab, dikarenakan nanti PON ke-VII tidak hanya disaksikan oleh masyarakat Indonesia namun juga oleh seluruh dunia dengan hadirnya para jurnalis asing," ujar Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan.
Karena fungsinya tidak lagi hanya sebagai lapangan sepakbola, karena sudah ada lapangan Karanggayam dan gedung atletik.
"Stadion Tambaksari yang baru bukan hanya untuk olahraga sepak bola saja, tetapi untuk cabang olahraga lainnya maka namanya diganti dengan gelora kependekan gelanggang olahraga," jelas Wawan.
PON ke-VII 1969 Surabaya digelar mulai 26 Agustus hingga 6 September 1969. Total ada 13 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan.
Pembukaan PON ke-VII 1969 digelar dengan meriah di Stadion Gelora 10 November yang sebelumnya bernama Stadion Tambaksari.
DKI Jakarta keluar sebagai juara umum dengan mengoleksi 101 medali emas, 69 perak, dan 40 perunggu.
Sementara tuan rumah jawa Timur harus puas di peringkat kedua dengan mengumpulkan 65 medali emas, 59 perak dan 52 perunggu.
Sedangkan peringat ketiga berhasil direbut Jawa Barat dengan membawa pulang 33 medali emas, 52 perak, dan 34 perunggu. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa