RADAR SURABAYA - Sebagai bangunan yang dikenal tempat digelarnya Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Tambaksari tidak hanya menampilkan kemegahan sebagai simbol kekuatan dan ketangkasan.
Arsitektur bangunan ini memberikan sentuhan seni yang indah.
Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan bahwa Stadion Tambaksari memiliki sentuhan nilai seni yang tinggi.
Di area dinding luar stadion, terdapat sejumlah relief berukuran besar yang menghiasi bangunan kebanggaan warga Surabaya tersebut.
"Terdapat sentuhan seni dalam Stadion Tambaksari yang baru. Di ambang atas stadion bagian luar yang menghadap ke barat, di antara pilar-pilar raksasa terdapat beberapa relief berukuran besar," ujar Nur Setiawan.
Pria yang akrab dipanggil Wawan tersebut menjelaskan bahwa relief-relief tersebut menggambarkan gerakan olahraga yang penuh semangat dan dinamis.
"Hanya tangan-tangan terampil yang mampu mengerjakan hal tersebut diantara ketinggian bangunan dengan penuh semangat dan percaya diri," jelas Wawan.
Ia menjelaskan, seniman yang membuat relief di area luar dinding stadion sehingga memunculkan nilai seni tinggi adalah Tedja Seminar.
"Dia seorang pelukis dan perupa asal Surabaya. Melalui tangan mahir seorang tedja tertoreh gambar relief untuk memperkuat aksen stadion tambaksari yang baru, yang terlihat tegas juga handarbeni," ujar Wawan.
Relief di Stadion Tambaksari itu hasil desain dari sketsa Tedja Suminar berdasarkan permintaan langsung dari Raden Soekotjo Sastrodinoto.
Soekotjo adalah wali kota Surabaya ke-9 yang menjabat tahun 1965 hingga 1974. Sementara PON VII digelar 26 Agustus hingga 6 September 1969.
Relief-relief yang indah dan sarat makna tersebut, hingga saat ini masih bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat, khususnya warga Surabaya.
Yang merupakan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Kota Pahlawan. (sam/opi).
Editor : Nofilawati Anisa