RADAR SURABAYA - Dengan sering digelarnya turnamen sepak bola di Surabaya, semakin banyak pula klub-klub dari kalangan perusahaan yang terbentuk.
Nah, Lapangan Tambaksari yang kini berubah menjadi Stadion Gelora 10 November adalah salah satu aksi bisunya.
Menurut Nur Setiawan, seorang pegiat sejarah, Surabaya tidak bisa lepas atau tidak bisa dipisahkan dari sepak bola.
Karena di masa itu, sepak bola merupakan suatu kebanggaan sehingga terlibat atau bermain sepak bola, terlebih tergabung dalam tim, membuat bangga seorang pemain.
"Tak bisa dipungkiri, Surabaya memang tak bisa dipisahkan dengan olahraga sepak bola. 90 tahun silam, sepak bola menjadi olahraga yang bisa dibilang membanggakan," ujar Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan.
Lahirnya klub-klub sepak bola, dipengaruhi dengan semakin seringnya penyelenggaraan turnamen-turnamen sepak bola.
Terutama dengan peserta turnamen yang merupakan klub-klub sepak bola yang lahir dari perusahaan.
"Beberapa klub sepak bola umum maupun perusahaan seperti Soerabaische Voetbal (SV), SV Aniem, SV Douane, SV Factorij, SV Handelsbank, SV Internatio, dan SV Marine Kazerne Goebeng, merupakan beberapa klub yang telah ada pada saat itu," tambah Wawan.
Dengan banyak klub yang lahir tersebut, secara tidak langsung membuat turnamen sepak bola digelar.
Turnamen digulirkan untuk meramaikan kancah dunia sepak bola pada saat itu, dan kegiatan tersebut tentunya membutuhkan tempat untuk penyelenggaraan.
Dan Lapangan Tambaksari merupakan salah satu tempat penyelenggaraan turnamen, yang notabene adalah lapangan cikal bakal berdirinya Stadion Gelora 10 November Surabaya.
"Bertanding dalam sebuah turnamen yang diikuti klub-klub tersebut, dan lapangan Tambaksari adalah salah satu tempat penyelenggaraan," jelasnya.
"Meski klub-klub tadi merupakan klub milik kaum penjajah, namun catatan warna warni sepak bola di Surabaya menjadi episentrum sejarah sepakbola Indonesia," tambah Wawan. (bersambung/opi)
Editor : Nurista Purnamasari