Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Keberadaan Kawasan Pecinan di Surabaya Sudah Tumbuh Sejak Abad Ke-14

Andy Satria • Senin, 14 April 2025 | 15:50 WIB
Pusat perdagangan utama kawasan Pecinan Surabaya di Jalan Kembang Jepun. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
Pusat perdagangan utama kawasan Pecinan Surabaya di Jalan Kembang Jepun. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Kawasan yang banyak dihuni oleh kaum Tionghoa atau Pecinan menyimpan kekayaan budaya dan cerita panjang perjalanan etnis Tionghoa di Kota Surabaya. Pegiat sejarah Nur Setiawan menyebut  kawasan Pecinan Surabaya diperkirakan sudah tumbuh sejak abad ke-14, bahkan diduga sebelumnya sudah ada.

"Hal ini terkait dengan rombongan muhibah Laksamana Cheng Hoo yang berasal dari Dinasti Ming, datang ke tanah Jawa," jelas Wawan sapaan akrab Nur Setiawan.

Datangnya Laksmana Cheng Hoo ke tanah air ini, diikuti oleh ribuan pasukannya. Dan, sesuai dengan catatan Ma Huan, saat kedatangannya tersebut sudah terdapat perkampungan orang-orang Tionghoa atau Pecinan.

Titik awal keberadaan kawasan Pecinan di Kota Surabaya masih mudah dilacak karena hingga saat ini masih bisa dijumpai. Mulai bentuk bangunan, baik rumah tinggal maupun tempat-tempat ibadah.

"Kawasan Pecinan di Surabaya dapat dilacak karena masih bisa dijumpai. Jejak-jejak Pecinan tersebut ditandai dengan adanya kelenteng dan kawasan perdagangan yang letaknya tak jauh dari sungai," jelas Wawan.

Kawasan Pecinan bisa dilacak saat ini meliputi daerah Kembang Jepun hingga ke timur di daerah Kapasan dan Simolawang.

Meskipun keberadaan kawasan Pecinan yang ada di Surabaya berdekatan dengan kawasan Arab dan juga Eropa, kedatangan mereka tidak bersamaan. "Bahkan sejak era Singasari, orang-orang Tionghoa sudah ada dan berdagang di sini," kata Wawan.

Kawasan Pecinan di Surabaya pun sebagian besar ditandai dengan banyaknya toko-toko. Karena orang-orang Tionghoa terkenal sebagai bangsa pedagang, sehingga di Surabaya mayoritas profesi mereka juga sebagai pedagang.

"Selebihnya bekerja sebagai tabib pengobatan, ada juga sebagai pekerja kasar seperti tukang bangunan," pungkasnya. (sam)

Editor : Lambertus Hurek
#Pecinan Surabaya #sejarah tionghoa surabaya #china town surabaya #pecinan surabaya kembang jepun