RADAR SURABAYA - Teng tengan ciluk kerap dimainkan oleh anak-anak Surabaya dahulu.
Apalagi permainan tradisional ini disertai dengan tembang dolanan.
Sambil membawa teng tengan mereka dikirab keliling kampung.
Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, di zaman sekarang dolanan tersebut tidak dikenal lagi.
Padahal dulu lampion atau lentera khas Surabaya yang berjuluk teng tengan ciluk sangat populer apalagi saat bulan puasa.
"Biasanya saat bulan puasa Ramadan gini atau kalau nggak saat Agustusan dan peringatan Maulid Nabi," ujar Nur.
Lebih lanjut dia menjelaskan, teng tengan ciluk itu berbentuk bulat menyerupai buah labu.
Bahannya terbuat dari gerabah tanah liat. Terdapat rongga di dalamnya untuk meletakkan perapian.
"Pada bagian atas terdapat lubang gantungan tali. Biasanya tali dikaitkan dengan sebatang kayu agar mudah untuk dibawa," tuturnya.
Dari bentuk dan maknanya teng tengan ciluk, menurut Nur merupakan sebuah pesan hidup yang baik dari para orang tua baik anak-anaknya, terutama pada anak-anak kecil.
"Pelita yang menyala di rongga teng tengan diibaratkan sebagai bulan yang menyinari bumi di malam hari. Dengan maksud agar manusia hidup selalu menebar kebaikan dan manfaat sekitarnya," ungkapnya.
Bahkan, lanjut Nur, terkadang dibiarkan menyala di depan rumah diibaratkan membuka pintu rejeki.
"Supaya penghuninya selalu dalam limpahan kebahagiaan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari