RADAR SURABAYA - Perkembangan Surabaya yang secara fisik dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda ini, semakin melebar dan menuju ke utara, barat dan selatan sejak abad 17 hingga abad 20.
Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, selain ada sudetan Kali Surabaya (kanal Kalimas) yang dibangun pada awal abad 19 di sekitar Jembatan Merah, mereka pada awal abad 20 juga semakin memperkuat pembangunan pelabuhan laut di Ujung, muara Kanal Kalimas.
"Sejak era kolonial inilah kesibukan pelabuhan laut Surabaya semakin ramai. Apalagi pelabuhan laut menjadi persebaran produk-produk bumi dari pedalaman pulau Jawa ke kota-kota dunia, mulai dari produk rempah-rempah di era VOC (1600-1799) hingga produk perkebunan keras di era Hindia Belanda (1800-1950)," terangnya kepada Radar Surabaya.
Untuk mengimbangi dinamika produksi dan perdagangan hasil bumi, maka di kota Surabaya bercokol kantor-kantor dagang yang bertaraf internasional sebagai perwakilan kota Amsterdam (HVA) dan Rotterdam (Internatio).
Dari perkembangan Surabaya sebagai kota klasik hingga menjadi kota modern di era kolonial, ternyata secara alami kondisi dan perubahan kondisi alamnya tidak memperlihatkan adanya sebuah titik pelabuhan besar yang ramai.
Kecuali ketika mulai dibangun pelabuhan laut untuk mengimbangi perkembangan produk-produk hasil bumi dari pedalaman Jawa. Sekarang, namanya Pelabuhan Tanjung Perak.
"Lalu, dimanakah pelabuhan laut Surabaya, yang dikabarkan ramai sejak abad 13-15 di era Majapahit serta abad 16? Ya, Pelabuhan Hujunggaluh. Sejak dulu, sekira abad 13, justru yang teridentifikasi sebagai pelabuhan adalah pelabuhan sungai Surabaya atau selanjutnya disebut pelabuhan sungai Kalimas, yang letaknyanya di Kampung Baru (timur Jembatan Merah Plaza)," paparnya.
Bahkan, di plengsengan (bibir Kalimas) dekat Jembatan Merah terdapat sebuah ring besi bekas tambatan perahu.
Bentuk fisik ring besi ini adalah ring tempaan dari pande besi, bukan hasil produksi pabrikan. Ring itu masih ada. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari