Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menelusuri Sejarah Pembangunan Saluran Air di Surabaya, Pembangunan Kanal Sebagai Pendukung Pabrik Gula

Mus Purmadani • Kamis, 20 Februari 2025 | 22:18 WIB

 

INDUSTRI: Pabrik Gula Karah dibangun dekat dengan Kali Surabaya untuk memudahkan mendapat pasokan air dan transportasi.
INDUSTRI: Pabrik Gula Karah dibangun dekat dengan Kali Surabaya untuk memudahkan mendapat pasokan air dan transportasi.

RADAR SURABAYA - Sepanjang Kalimas dibangun kanal dan sluis yang tidak hanya berfungsi menjadi penyedia air untuk kebutuhan domestik, irigasi dan industri. Tetapi juga bisa menjadi sarana transportasi dan perhubungan.

Pada pertengahan abad 19 ketika Surabaya mulai berkembang sebagai kota industri, salah satunya industri gula, maka kebutuhan air untuk irigasi perkebunan sangat penting.

Pada abad itu pabrik-pabrik gula di Surabaya berjajar di sepanjang Kalimas mulai pabrik gula Ngagel, Bagong, Gubeng, Darmo hingga Ketabang.

"Adanya pembangunan kanal Wonokromo juga dikuatkan dengan peristiwa pertikaian yang terjadi antara santri pondok Ndresmo dengan pihak Belanda," jelas Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono kepada Radar Surabaya.

"Hingga sekarang, cerita perlawanan santri Pondok Ndresmo melawan Belanda karena menolak perintah pembangunan kanal Wonokromo masih beredar di masyarakat," imbuhnya.

Menurutnya Kiai Ali Akbar, mewakili Pondok Sidosermo, dengan dibantu oleh Mbah Kendor dan Mbah Iskandar, yang makamnya ada di kompleks pesarean Bungkul, menghadap pihak Belanda bahwa dirinya berserah ditangkap untuk menghentikan perlawanan dari warga pondok kepada pihak Belanda.

Kiai Ali Akbar berkompromi dengan pihak Belanda bahwa dirinya berserah ditangkap, asalkan warga pondok dibebaskan dari kerja pembangunan pondok dan bebas bayar pajak.

“Sebelum Kiai Ali Akbar ditangkap atau berserah diri, pihak Belanda sempat memburunya hingga ke dalam pondok, bahkan masuk ke dalam rumah sang Kiai," katanya.

"Untungnya anak Kiai Ali Akbar, yang bernama Ali Asghor yang masih kecil luput dari buruan pihak Belanda karena disembunyikan di balik kukusan (penanak nasi, Red)," tambahnya.

Untuk menghindari kekacauan itulah Kiai Ali Akbar berserah. Konon tersiar kabar hingga sekarang bahwa Kiai Ali Akbar diasingkan ke Belanda.

Setelah itu pembangunan kanal Wonokromo terus berjalan dan keluarga Pondok tidak diusik atau mengusik dan bahkan mereka terbebas dari berbagai pajak. (bersambung/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kanal #irigasi #pabrik gula #industri gula #industri #sejarah Surabaya #kalimas