Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menelusuri Sejarah Pembangunan Saluran Air di Surabaya, Fasilitas Penjernihan Air Ada Sejak Era Hindia Belanda

Mus Purmadani • Selasa, 18 Februari 2025 | 23:29 WIB
INFRASTRUKTUR: Sebagian IPAM Ngagel sudah ada sejak era Hindia Belanda dan merupakan bagian dari pengelolaan air.
INFRASTRUKTUR: Sebagian IPAM Ngagel sudah ada sejak era Hindia Belanda dan merupakan bagian dari pengelolaan air.

RADAR SURABAYA - Pada kompleks pintu air Jagir Wonokromo di Jalan Ngagel terdapat delta atau pulau kecil yang terdiri dari dua gerbang air.

Sisi barat diyakini sebagai Wonokromo Sluizen in de Kali Mas te Soerabaja yang salah satu fungsinya untuk lalu lintas perahu. Sisi timur merupakan pintu air pengendali banjir.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, jika debit air dari selatan (Kali Surabaya) cukup tinggi, Pintu Air Wonokromo ditutup sehingga aliran terbuang melalui Pintu Air Jagir.

Sebaliknya, jika debit dari selatan kurang sementara wilayah kota memerlukan air untuk irigasi dan industri, pintu air Jagir ditutup sehingga aliran masuk ke Kalimas.

“Untuk itu, pintu air Jagir kerap disebut banjir sluis. Adapun di sepanjang Kalimas dibangun sejumlah dam dan sluis untuk memaksimalkan fungsi penyediaan air bagi domestik, irigasi perkebunan (tebu), industri (gula), dan perhubungan. Di tepi Kalimas pernah berdiri pabrik gula Ngagel, Bagong, Gubeng, Darmo, dan Ketabang,” katanya.

Sluis Wonokromo, prasarana pengairan itu dibangun di masa Hindia-Belanda dalam kurun 1865-1889 untuk pengendali banjir Kali Surabaya, penyedia air baku dari Kali Surabaya, penahan intrusi air laut dari Selat Madura, dan jalur transportasi untuk perahu.

Jadi air baku diambil dari Kali Surabaya untuk kemudian diolah di IPAM. Setiap hari, diperlukan tawas sebanyak 10 ton dan setidaknya 6 kilogram bubuk kimia untuk penjernihan.

Salah satu menara yakni Filter D merupakan tinggalan Hindia-Belanda. Kapasitas ketika dibangun di masa Hindia-Belanda cuma 60 liter per detik.

“Di era Republik Indonesia, pemerintah membangun menara-menara baru setipe dengan tinggalan Hindia-Belanda sehingga kapasitas meningkat,” katanya. (bersambung/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#saluran air #surabaya #wonokromo #pintu air jagir #sejarah Surabaya #penjernihan air