Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menelusuri Sejarah Pembangunan Saluran Air di Surabaya, Pembangunan Pintu Air hingga Penjernihan Air

Mus Purmadani • Senin, 17 Februari 2025 | 23:17 WIB
PROYEK BESAR: Pintu air Jagir Wonokromo sekitar tahun 1915 saat proses pembangunan.
PROYEK BESAR: Pintu air Jagir Wonokromo sekitar tahun 1915 saat proses pembangunan.

RADAR SURABAYA - Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) Ngagel di Jalan Ngagel Tirto, Wonokromo dan Pintu Air Jagir memiliki kaitan yang erat. 

Pintu Air Jagir dibangun pada 1917 atau masa Hindia-Belanda. IPAM Ngagel, menurut PDAM Surya Sembada, dibangun 1922 atau lima tahun lebih muda.

Pintu Air Jagir berfungsi pengendali banjir dari Kali Surabaya, penyedia air baku bagi IPAM Ngagel, dan penahan intrusi air laut dari Selat Madura melalui Kalimas atau Kali Jagir.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya juga memasang papan informasi yang menyatakan Pintu Air Jagir (1923) sebagai lokasi pacekan atau tempat berlabuh tentara Tartar yang akan menyerang Kediri pada 1293.

Terusirnya tentara Tartar pada 31 Mei 1293 oleh pasukan Wijaya, pendiri Majapahit, yang diduga terjadi di delta Jagir itu menjadi dasar penetapan Hari Jadi Surabaya.

“Padahal, Kali Jagir yang bermuara ke pantai timur dan Selat Madura melalui Wonorejo belum ada sampai setidaknya 1865, catatan Hindia-Belanda tentang pembangunan sudetan atau Wonokromo Sluizen in de Kali Mas te Soerabaja,” katanya.

Menurutnya, pintu air Jagir dibangun di masa Hindia-Belanda pada 1917 untuk pengendali banjir Kali Surabaya, penyedia air baku dari Kali Surabaya, dan penahan intrusi air laut dari Selat Madura.

Pintu Air Jagir bisa diyakini dibuat berkaitan dengan proyek Kali Jagir, sudetan menuju timur ke Selat Madura untuk pengendali banjir.

“Sementara itu, tidak jauh dari sana, juga terdapat Pintu Air Wonokromo yang menjadi permulaan Kali Mas yang bermuara ke Pelabuhan Tanjung Perak,” jelasnya.

Dari Jembatan Besar Wonokromo yang menghubungkan Jalan Wonokromo dan Jalan Raya Darmo dapat terlihat bahwa Kali Surabaya bercabang, yakni ke utara (Kali Mas) dan ke timur (Kali Jagir).

“Kalangan warga sepuh Wonokromo juga menyebut Kali Jagir sebagai Kali Londo (Belanda) karena dibuat oleh Hindia-Belanda yang turut memaksa rakyat. Pemaksaan itu memicu perlawanan rakyat terutama dari pesantren-pesantren Ndresmo (Sidosermo Dalam),” imbuhnya.

Disamping itu, seiring semakin kuatnya Surabaya, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan juga terus berkembang dan tumbuh.

Berbagai fasilitas penting, khususnya yang mendukung kemajuan kota terus dibangun. Termasuk pendukung transportasi dan perdagangan.

Memasuki abad 20, pelabuhan laut mulai dibangun. Keberadaannya untuk memperkuat sistem transportasi dan perhubungan.

Diantaranya adalah untuk transportasi hasil bumi. Karenanya jaringan rel kereta api juga dibangun hingga ke pelabuhan Ujung maupun Tanjung Perak. (bersambung/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #kali jagir #IPAM Ngagel #pintu air jagir #sejarah Surabaya #kalimas