RADAR SURABAYA - Diantara para gubernur jenderal yang ditugaskan di Hindia Belanda, Gubernur Jendral Daendels (1808-1811) lah yang benar-benar mulai merancang pembangunan Surabaya.
Ketika itu dengan alasan untuk memperlancar urusan-urusan dan kepentingan militer.
Tidak hanya kanal dibangun, tapi kelengkapan militer sudah mulai diinisiasi dan ditata.
Termasuk pembuatan sudetan kali yang dibuat mulai dari Kampung Baru langsung lurus ke utara ke arah laut (Selat Madura).
Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, pembuatan sudetan kali ini dalam satu paket pembuatan sudetan di Patjekan, yang selanjutnya dikenal dengan nama Jagir hingga sekarang.
“Jadi di selatan, Wonokromo, ada sudetan Jagir dan di utara, Kampung Baru, ada sudetan yang selanjutnya disebut Kanal Kalimas,” katanya kepada Radar Surabaya.
Pada tahun 1821, di beberapa titik sungai Kalimas, yang sebelumnya bernama Kali Surabaya (rivier van Surabaya) dibangun pintu air pintu air yang selain berfungsi sebagai dam, juga sebagai jalur lalu lintas perahu.
Ada empat titik pintu air yang sudah direncanakan pada 1821 (Asia Maior).
Yaitu di Ngagel, Gubeng, Undaan, dan Peneleh. Semuanya untuk mengontrol air.
Dari ke empat pintu air, hanya dua yang dapat dilihat bekasnya, yaitu di Ngagel dan Gubeng.
Kemudian Van den Bosch juga berperan melanjutkan dan menata gagasan Daendels menjadikan Surabaya sebagai kota dan wilayah pertahanan.
Maka di tahun 1830-an diperkuat infrastruktur pertahanan dan militer di Surabaya.
Benteng Prins Hendrik dibangun pada 1836, barak militer di Jotangan di perkuat, pabrik senjata serta perumahan perwira militer serta kantor militer didirikan.
“Seiring dengan semakin kuatnya Surabaya, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan yang bertumpu pada hasil bumi juga mulai melimpah, maka Kanal Kalimas benar benar berfungsi sebagaimana sudah direncanakan oleh Daendels," jelasnya.
"Disanalah semakin pesat pembangunan fasilitas pendukung perdagangan dan industrialisasi yang bertumpu pada perkebunan,” imbuhnya.
Maka di Kalimas Timur (Oosterkade Kalimas) dibangun pabrik kontruksi untuk mendukung hadirnya pabrik gula (suikerfabriek).
Di Surabaya saja tercatat pernah ada delapan pabrik gula. Yaitu Karah, Ketintang, Dadungan, Ngagel, Bagong, Gubeng, Ketabang dan Darmo.
Diantara pergudangan yang ada di Oosterkade Kalimas dan Westerkade Kalimas adalah gudang gudang gula.
Lainnya ada yang menyimpan kopra, kopi dan karet serta hasil bumi lainnya.
Untuk mendukung transportasi barang, jalur kereta api juga merupakan jalur langsung di mulut setiap pergudangan.
“Hingga kini, bekas jalur rel kereta api masih bisa dilihat,” ujarnya.
Memasuki abad 20, pelabuhan laut mulai dibangun. Keberadaannya untuk memperkuat sistim transportasi dan perhubungan.
Diantaranya adalah untuk transportasi hasil bumi. Karenanya jaringan rel kereta api juga dibangun hingga ke pelabuhan Ujung maupun Tanjung Perak.
“Kini di abad 21, kejayaan kawasan pergudangan dan kanal Kalimas sudah pudar,” katanya. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari