RADAR SURABAYA - Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Surabaya pastinya memiliki sisi pluralitas dan nilai historis yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya melalui bangunan-bangunan bersejarah.
Salah satu bangunan yang paling menonjol dan memiliki sejarah panjang adalah Klenteng Hong Tiek Hian, yang terletak di Jalan Dukuh, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya.
Klenteng ini dikenal sebagai klenteng tertua yang ada di Surabaya. Klenteng ini sering disebut juga sebagai Klenteng Dukuh, karena sesuai lokasinya yang berada di Jalan Dukuh.
Klenteng ini dipercaya telah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Meski tidak ada catatan pasti tentang kapan pertama kali dibangun, sebagian sumber menyebutkan bahwa klenteng ini sudah ada sejak abad ke-13 Masehi, bertepatan dengan era awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Sejarah Berdirinya Klenteng Hong Tiek Hian
Tidak ada catatan pasti mengenai tanggal berdirinya Klenteng Hong Tiek Hian, namun banyak orang yang meyakini bahwa klenteng ini sudah ada sejak abad ke-13 Masehi.
Konon, klenteng ini dibangun oleh pasukan Mongol atau Tartar yang datang ke Jawa dalam rangka ekspansi ke Kerajaan Singasari.
Karena pada saat itu mereka tidak memiliki tempat ibadah, mereka akhirnya mendirikan klenteng sebagai tempat peribadatan. Salah satunya adalah Klenteng Hong Tiek Hian yang berada di Surabaya.
Namun, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa klenteng ini sebenarnya didirikan pada abad ke-17 Masehi, bersamaan dengan gelombang migrasi orang Tiongkok ke Surabaya.
Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai tanggal berdirinya, Klenteng Hong Tiek Hian tetap menjadi simbol sejarah yang penting bagi kota Surabaya.
Pesona Klenteng Hong Tiek Hian
Selain menjadi tempat peribadatan, Klenteng Hong Tiek Hian juga terbuka bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan dan kekayaan budaya Tionghoa di Surabaya.
Terletak di kawasan Kembang Jepun atau China Town, klenteng ini menjadi salah satu destinasi menarik di kota ini.
Klenteng ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi hingga 17.00 sore. Namun, pada saat perayaan besar seperti Imlek, klenteng ini biasanya buka lebih lama, bahkan bisa mencapai 24 jam.
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk untuk menikmati keindahan klenteng ini. Meski begitu, bagi yang membawa kendaraan, disarankan untuk menyiapkan uang seikhlasnya untuk biaya parkir.
Untuk memasuki Klenteng Hong Tiek Hian, pengunjung harus melewati gerbang utama berbentuk menara merah lengkap dengan tulisan aksara Cina yang berada di sisi jalan Dukuh.
Setelah masuk, pengunjung akan menemukan dua area bangunan berbeda yang berada di sisi kanan dan kiri gang.
Di sisi kanan terdapat Altar Kong Co, altar tertua yang digunakan umat Tri Dharma (Konghucu, Buddha, dan Tao) untuk beribadah.
Sementara di sisi kiri, terdapat Altar Mak Co sebagai tempat digelarnya pertunjukan wayang potehi serta area berjualan benda benda atau peralatan beribadah.
Di lantai dua klenteng, terdapat altar tambahan untuk peribadatan, dengan berbagai patung dewa-dewi dalam kepercayaan Tri Dharma yang tertata rapi.
Altar ini menjadi tempat yang dihormati oleh umat yang datang untuk beribadah dan menyaksikan keindahan serta kekayaan spiritual yang ada di klenteng ini.
Salah seorang pengunjung bernama Ajeng, 25 tahun, dari Kediri juga mengungkapkan pengalamannya saat berkunjung ke klenteng ini.
Karena baru pertama kali datang, Ajeng merasa kagum dengan arsitektur dan ornamen-ornamen khas Tionghoa yang ada di dalamnya.
“Karena baru pertama kali datang, jadi kagum ya, apalagi liat isi dalemnya,” ujarnya sambil malu-malu saat diwawancara.
Ajeng juga mengatakan bahwa dirinya mengetahui keberadaan klenteng ini dari temannya.
"Saya tahu dari teman aja sih, terus datang ke sini bareng buat liburan. Baru pertama kali juga tahu ada pertunjukan wayang potehi di sini," tambahnya.
Selain menikmati keindahan klenteng, Ajeng juga merasa terkesan dengan kekayaan budaya Tionghoa yang ditawarkan tempat ini.
Wayang Potehi sebagai Simbol Budaya Klenteng Dukuh
Salah satu daya tarik utama dari Klenteng Hong Tiek Hian adalah pertunjukan Wayang Potehinya. Pertunjukan wayang ini yang rutin digelar setiap hari.
Pertunjukan ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 pagi dan menjadi salah satu acara langka yang tidak banyak ditemukan di klenteng-klenteng lainnya.
Menurut Edi Sutrisno, 42 tahun, yang merupakan salah satu dalang Wayang Potehi di Klenteng Dukuh, klenteng ini adalah satu-satunya di Indonesia yang masih eksis mempertahankan tradisi memainkan wayang potehi sejak tahun 1962-an.
“Setiap hari kita pentas, dan satu-satunya di Indonesia, klenteng yang Potehinya setiap hari main cuma disini. Dan itupun sudah mulai dari tahun 62-an,” ujarnya saat ditemui setelah menyelesaikan pertunjukan.
Dulunya, pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Dukuh digelar dalam tiga sesi setiap harinya, yakni dari mulai pagi, siang, dan malam.
Namun setelah pandemi COVID-19, pengelola klenteng memutuskan untuk membatasi pertunjukan hanya sekali dalam sehari, yakni pada pagi hingga siang hari saja.
“Semenjak adanya Covid, sama pihak manajemen dibatasi, sehari minimal bisa satu kali dua kali, pokoknya untuk yang malam ditiadakan,” imbuh Edi.
Cerita yang dibawakan dalam setiap pertunjukan biasanya mengangkat legenda atau kisah-kisah Tiongkok kuno.
Karena panjangnya cerita, setiap sesi menampilkan potongan-potongan kisah yang akan dilanjutkan pada sesi berikutnya, hingga cerita tersebut selesai secara keseluruhan.
Keunikan dan tradisi ini menjadikan pertunjukan Wayang Potehi di Klenteng Hong Tiek Hian sebagai pengalaman budaya yang tak boleh dilewatkan. (gus/ask/jay)
Editor : Jay Wijayanto