RADAR SURABAYA - Surabaya kuno adalah sebuah tempat di antara empat air (sungai).
Di barat ada Kalimas, di selatan ada kanal air (sekarang Jalan Jagalan), di timur ada sungai Pegirian dan di utara ada kanal air (Jalan Stasiun).
Tempat yang mirip sebuah pulau ini adalah kawasan Kampung Pengampon dan Semut.
Pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, hal tersebut dijelaskan dalam buku karya terakhir G.H Von Faber.
Menurutnya, Von Faber menyebut bahwa Surabaya 1275 dibuka oleh Raja Kertanegara.
“Surabaya Kuno (1275) adalah kawasan permukiman baru bagi para Jawara, para pemberani, yang telah berjasa membantu sang Raja dalam menumpas pemberontakan Kanuruhan pada 1270 M. Sebelum bermukim di Surabaya 1275, para pemberani itu bermukim di Glagah Arum (Pandean Pinilih),” katanya, kepada Radar Surabaya.
Pandean Peneleh adalah kawasan Delta percabangan sungai Kalimas. Pandean Peneleh secara alami juga sebuah tempat yang dikelilingi oleh air (sungai). Jadi, keberadaannya tampak bagai sebuah pulau.
“Menurut Von Faber Pandean Peneleh (Glagah Arum) sudah ada pada 1270,” katanya.
Nanang mengatakan, dalam lintas waktu, kawasan Peneleh lebih menunjukkan jejak-jejak peradaban masa lalunya daripada Pengampon dan Semut.
Jejak peradaban kunonya itu adalah dengan ditemukannya benda arkeologi Sumur Jobong di kampung Pandean I, adanya kuburan panjang di Grogol Kauman II, makam bangsawan di Lawang Seketeng V, makam panjang Jagalan.
Kemudian masjid Jami di Peneleh V dan makam kuno yang dipercaya warga lokal sebagai Putri Cempa.
“Bukti-bukti otentik, faktual dan nyata ini tersebar di kelurahan Peneleh,” ujarnya.
Lebih lanjut Nanang menuturkan, dari penelusuran yang dilakukannya didapati bahwa di tengah-tengah kawasan wilayah kelurahan Peneleh terdapat kampung Grogol Kauman.
“Jadi Grogol Kauman ini berada di tengah tengah kawasan Kampung Grogol. Sementara Kampung Grogol sendiri dikelilingi oleh kampung-kampung Pandean, Peneleh, Plampitan, Polak Wonorejo, Undaan Peneleh, Klimbungan, Jagalan dan Lawang Seketeng,” tuturnya. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari