Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menelusuri Sejarah Pembangunan Saluran Air di Surabaya, Pembangunan Kanal dan Viralnya Kalimas

Mus Purmadani • Minggu, 19 Januari 2025 | 03:24 WIB
DARI SUNGAI ALAMI: Kalimas muncul dari pembangunan kanal mulai dari Pabean hingga ke muara di Ujung.
DARI SUNGAI ALAMI: Kalimas muncul dari pembangunan kanal mulai dari Pabean hingga ke muara di Ujung.

RADAR SURABAYA - Munculnya nama Kalimas karena adanya pembangunan kanal atau sudetan mulai dari Kampung Baru (Pabean) hingga ke muara di Ujung. Kanal ini dibangun pada kisaran pertengahan abad 19.

Pembangunan kanal tersebut satu zaman dengan proyek pembangunan infrastruktur pengairan dan bendungan lainnya di Jawa Timur.

Misalnya pembangunan Pintu Air Mirip Mojokerto (1848), pembangunan Dam Jagir dan Lengkong Mojokerto (1870), pembangunan sudetan Kali Porong (1882), pembangunan Dam Gubeng dan Gunungsari (1880-an) serta sudetan Bengawan Solo di Bungah Gresik pada 1880.

“Sudetan Kali Surabaya dari Kampung Baru lurus ke muara ini dinamakan Kanal Kalimas. Setelah pembangunan Kanal Kalimas, ketika itu, alur Kali Surabaya yang bermuara di Krembangan masih ada. Tapi debit air, yang terbuang ke selat Madura, jauh lebih banyak melalui Kanal Kalimas,” kata Pegiat Sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono kepada Radar Surabaya.

Lambat laun alur sungai alami, yang berkelok kelok melalui Pesapen dan bermuara di Krembangan mati karena ruas sungai di belokan (kawasan Kalisosok) ditutup atau disumbat.

“Maka bekas kali itu berubah menjadi jalan yang dinamakan Jalan Kalisosok, artinya sungai yang disumbat. Sejak itulah nama Kalimas menjadi viral. Saking viralnya, nama Kalimas yang seharusnya hanya untuk nama sebuah kanal merambah ke sepanjang sungai hingga Ngagel, Wonokromo,” imbuhnya.

Nanang mengatakan, Groenneveld pada 1876 sebagaimana dituliskan dalam bukunya, yang bersumber dari Kronik China, Notes in the Malay Archipelago and Melacca, menerjemahkan Pa-Tsih-Kan untuk Brantas atau Kali Surabaya atau Kalimas.

Kronik China sebagaimana dikutip oleh Groenneveld menyebut bahwa melalui muara Pa-Tsih-Kan (Kalimas dengan muara lama) inilah pasukan Mongolia di bawah Kekaisaran Kubilai Kan masuk ke pedalaman Jawa pada 1293 M.

Lebih lanjut Groenneveld menuliskan dan menggambarkan Kalimas kecil, yang tidak bisa dilewati kapal dan terpaksa harus ganti perahu untuk sampai ke Majapahit melalui Surabaya.

Ringkasnya bahwa pasukan Mongol, yang berangkat dari Tuban, semuanya menuju ke suatu tempat di muara sungai Pa-Tsih-Kan (Kalimas kecil).

Jejak tempat di dekat muara Kalimas ini, yang kemudian menjadi jalur kedatangan gelombang orang etnis China, ke Jawa.

Setelah Pasukan Monggol (1293), kemudian rombongan Cheng Ho (1430) dan berikutnya keluarga Han, The dan Tjoa pada awal abad 18.

Tempat persinggahan ini selanjutnya dikenal dengan nama kawasan Kampung Pecinan Surabaya.

Kawasan Pecinan adalah lahan, yang berada di antara dua sungai. Yaitu sungai Kalimas, dan anak sungai Kalimas yang bernama Kali Pegirian.

Lahan, yang berupa delta sungai ini, semakin ke selatan semakin tua karena terbentuknya lahan karena sedimentasi terjadi lebih awal, yaitu di daerah Pandean, Peneleh, dan Pengampon. (bersambung/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kanal #sungai kalimas #surabaya #bendungan #kali surabaya