Beberapa kali bangunan tersebut pasca menjadi hotel digunakan untuk usaha lainnya.
Sayangnya tidak seramai saat digunakan menjadi hotel yang dikelola oleh Achijat maupun keluarganya.
Menurut Alki Kiramiim, cucu Achijat, dijualnya Hotel Flores karena banyak yang mengusik dari internal keluarga besarnya.
Agar tidak menimbulkan suatu permasalahan dikemudian hari akhirnya hotel tersebut dijual.
"Karena banyaknya yang mengusik baik dari keluarga kakek saya maupun keluarga yang lainnya. Akhirnya oleh nenek saya dijual. Supaya kakek saya juga tenang juga," ungkap Alki kepada Radar Surabaya.
Alki pun mengaku jika Hotel Flores tak pernah sepi dari para tamu. Bahkan keuntungan dari Hotel Flores dibagi tiap anak Achijat.
Masing-masing anak Achijat mempunyai jatah dalam keuntungan saat mengelola hotel setiap harinya pasca Achijat meninggal dunia.
"Jadi ada jadwal untuk mengelola hotel. Hari pertama anak pertama terus sampai digilir anak berikutnya. Dan itu keuntungan juga didapat setiap bekerja mengelola hotel," terangnya.
Hotel Flores nggak pernah seret. Bahkan Alki menyebut ketika hotel ditutup malah kita seperti menutup rezeki bagi orang-orang sekitar. Karena banyak yang terbantu dengan kehadiran hotel tersebut.
"Namun nenek saya berkeinginan agar tenang dan tidak menimbulkan permasalahan akhirnya di jual Hotel Flores," imbuhnya.
Setelah Hotel Flores dijual banyak kesedihan yang mendalam. Hal ini diungkapkan Alki, dirasakan oleh para tetangga sekitar Hotel Flores yang melihat betapa kondang dan ramainya Hotel Flores dari para tamu yang menginap.
Alki pun pernah bertemu dengan salah satu tetangganya di kawasan Bagong pasca hotel tidak beroperasi lagi.
"Pernah saat silaturahmi gitu ke orang lama di sekitar Flores. Ada yang menyayangkan karena hotel itu sangat terkenal dulu," pungkasnya. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari