RADAR SURABAYA - Letnan Moch Achijat merupakan tokoh Surabaya yang dikenal berani dalam bertindak maupun berbicara.
Keberanian Achijat tidak hanya ditunjukkan saat masa pertempuran melawan penjajah saja. Namun Achijat juga berani di era pasca kemerdekaan.
Keberanian Achijat bukan tanpa dasar, menurut Nurmansyah, anak ketujuh Achijat, bukti kecintaan dan perhatian terhadap perkembangan kota Surabaya dengan tetap menjunjung tinggi nilai perjuangan 10 November 1945.
Hal inilah yang membuat Achijat berani menentang perbuatan yang negatif yang dapat merusak citra Surabaya.
"Bapak saya sangat cinta terhadap Kota Surabaya. Bapak saya ingin menjunjung tinggi nilai perjuangan 10 November yang telah dia dan pejuang lainnya mati-matian memperjuangkan dari penjajahan. Sehingga ketika melihat hal-hal yang batil terhadap Surabaya maka akan ditentangnya," ujar Nurmansyah kepada Radar Surabaya.
Nurmansyah pun mengaku awal tahun 1970-an, bapaknya sempat hendak dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Timur.
Namun Achijat menolak. Dengan alasan tidak ada yang membela masyarakat.
"Jadi bapak saya pernah diusulkan menjadi Gubernur Jawa Timur. Lantas bapak saya menolak dan berucap saat itu, ‘Kalau saya menjadi gubernur lalu yang membela masyarakat siapa?’," cerita Nurmansyah.
Selain itu, Moch Achijat mempunyai jasa besar terhadap usulan penamaan sebuah jalan di Surabaya dengan menggunakan nama Gubernur Suryo.
Ketika itu Achijat mengusulkan nama Jalan Gubernur Suryo kepada Wali Kota Surabaya saat itu yakni R. Soekotjo.
Alasan utama Gubernur Suryo menjadi nama jalan di Surabaya karena telah memimpin perjuangan rakyat Suroboyo dalam menghadapi serangan tentara Inggris atau sekutu.
Gubernur Suryo juga menjadi Gubernur Jawa Timur pertama yang patut dikenang jasanya. (bersambung/nur)
Editor : Nurista Purnamasari