RADAR SURABAYA - Pada masa perjuangan kemerdekaan, kota Surabaya pernah mengalami situasi yang genting usai terbunuhnya AWS Mallaby dalam pertempuran Surabaya.
Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh yang ketika itu menggantikan peran Mallaby untuk memimpin tentara Inggris, mengirimkan surat kepada Gubernur Suryo.
Surat tersebut isinya menuduh pihak Indonesia telah menghalangi evakuasi interniran atau tempat pengasingan penduduk sipil Eropa.
Menurut pengamat sejarah, Nanang Purwono, saking marahnya Mansergh sampai-sampai menyebut Surabaya telah dikuasi oleh perampok.
Bahkan Mansergh memerintahkan Gubernur Suryo untuk datang menemuinya di kantornya pada tanggal 9 November 1945 pukul 11.00.
Namun Gubernur Suryo ketika itu, kata Nanang menolak panggilan ke kantor Mansergh.
Karena dianggap membangkang dan Gubernur Suryo menyangkal semua tuduhan dari Mansergh.
Akhirnya Mansergh memerintahkan tentaranya untuk mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya.
Ultimatum tersebut berisi, pertama semua pimpinan bangsa Indonesia termasuk pemimpin pergerakan, pemimpin pemuda, kepala polisi dan petugas radio harus melapor kepada Inggris dengan batas waktu pukul 18.00 tanggal 9 November.
Kedua, mereka harus berbaris satu per satu dengan membawa senjata yang dimiliki.
Ketiga senjata harus diletakkan 100 yard atau 75 meter pada tempat yang telah ditentukan.
Keempat, setelah meletakkan senjata, mereka harus berjalan dengan meletakkan tangan di atas kepala menuju pos yang telah ditentukan.
Kelima, selanjutnya mereka (semua pemimpin Indonesia) harus menandatangani dokumen sebagai tanda menyerah tanpa syarat dan kemudian ditawan.
Terakhir yakni jika ultimatum tidak ditaati, maka Inggris akan menghancurkan seluruh kota Surabaya dari darat, laut dan udara.
Namun rakyat Surabaya tak gentar menghadapi ancaman itu. Bahkan menurut Nanang, mereka menolak ultimatum karena itu merupakan bentuk penghinaan yang tiada tara.
"Rakyat Surabaya punya semboyan lebih baik berputih tulang daripada berputih mata atau artinya lebih baik mati daripada terhina," terangnya.
Akhirnya, Gubernur Suryo secara resmi menolak ultimatum itu dan rakyat Surabaya bersiap untuk bertempur.
"Jika melihat pernyataan sikap dan kesiapan rakyat Surabaya mempunyai maksud tidak seorang pun sudi mengangkat tangan sambil menyerahkan senjata," tutur Nanang.
Kemudian pihak Inggris menempati janjinya pada 10 November 1945 pagi hari, pasukan Inggris mulai melancarkan serangannya.
Kota Surabaya digempur dari darat, laut, dan udara. Sekitar 15 ribu orang pasukan Inggris dikerahkan untuk menggempur kota Surabaya yang dikawal oleh 13 ribu orang pemuda.
"Inggris mengerahkan tank, senjata artileri serta meriam kapal. Selain itu juga dikerahkan pesawat pembom sebanyak 12 mosquito dan thunderbolt. Belum lagi tank Sherman dan sejumlah brencarrier," jelasnya.
Rakyat Surabaya hanya bersenjata dari senapan sampai mortir dan 2 pucuk meriam anti pesawat terbang kaliber 75 mm.
Kenyataannya kota Surabaya tidak mudah begitu saja dihancurkan seperti yang direncanakan sekutu.
Lewat semangat pantang menyerah mempertahankan kota Surabaya yang dipimpin oleh Sungkono.
"Pertahanan kota waktu itu dibagi menjadi empat sektor. Bung Tomo ketika menjadi motor pembangkit semangat juang arek-arek Surabaya dan bersumpah mempertahankan kota Surabaya sampai titik darah penghabisan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari