RADAR SURABAYA - Oei Tiong Ham, seorang raja gula dahulu memiliki salah satu istana di Surabaya.
Istana itu berada di Jalan Undaan Kulon, Surabaya. Kini bekas istana tersebut dipakai kantor PT Rajawali I RNI Grup.
Pegiat Sejarah Surabaya Kuncarsono Prasetyo mengatakan, Oei Tiong Ham merupakan legenda orang terkaya se-Asia awal abad 20.
Dia tajir berkat bisnis gula sejak akhir abad 19 dan awal abad 20. Dia memiliki puluhan pabrik gula di Jawa.
"Melalui Firma usaha Oei Tiong Ham concern memulai bisnis candu dari Semarang. Kemudian membeli pabrik-pabrik gula milik Belanda. Produksi gula di Hindia berjaya masa itu, bahkan menjadi produsen gula terbesar di dunia. Karenanya dia dijuluki Raja Gula dari Hindia," ungkapnya kepada Radar Surabaya.
Kuncar menjelaskan, istana ini menempati area seluas lebih dari 3 hektare.
Bangunan menghadap Sungai Pegirian. Memiliki halaman seluas lapangan sepak bola.
"Bangunan induknya di tengah, berpilar-pilar gaya neo klasik. Diapit paviliun memanjang membentuk huruf U. Ada enam kamar utama di bagian gedung utama. Ada puluhan kamar di paviliun. Paviliun lazimnya untuk area servis. Untuk dapur, kamar mandi dan tempat tìnggal puluhan pembantunya," bebernya.
Pendiri Begandring Soerabaia ini melanjutkan, istana Oei Tiong Ham sebenarnya dibangun pengusaha perkebunan era tanam paksa, Gerald Joachuim Eschauzier seorang raja gula periode sebelum Oei.
Di buku Oud Soerabaia karya GH Von Faber, Eschauzier membangun istana pada 1878.
Bangunan tersebut diklaim istana milik pribadi paling mewah di Hindia Belanda.
Dia mengundang arsitek khusus dari Belanda. Prof. E Gugel, Guru besar Universitas Delf.
"Eschauzier meninggal 1907. Catatan pengadilan menyebut 12 Desember 1908 rumah ini dibeli Oei Tiong Ham senilai 12.000 gulden. Saat itu, predikat raja gula memang dipegang Oei. Namun jauh lebih tajir dibanding pendahulunya. Istana ini harus dibeli Oei sebagai simbol penguasaan gula," tuturnya.
Oei, kata Kuncar, tinggal di istana jika meninjau pabrik-pabrik gula miliknya di Jawa Timur. Oei sendiri punya istana yang luas di derah Gergaji, Semarang.
"Kerajaan bisnis Oei ini tragis di akhir hayatnya. Paska kematiannya di Singapura 1924, resesi dunia menghantam, keturunannya tidak sanggup mengelola. Satu persatu hilang. Sampai dikuasai negara dengan nasionalisasi 1964," tuturnya.
Mantan wartawan surat kabar lokal ini ini menyebut bekas istana tersebut kini menjadi gedung PT Rajawali I RNI Grup.
Separo lahan istana menjadi sekolahan, serta seperempat lahannya jadi kompleks rumah dinas PT RNI. (rus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari